Tuesday, February 28, 2006

Tinta "Ajaib" dan Sebatang Pensil

Ketika saya menulis "The Mildura Accident" minggu lalu, saya hanya ingin membagikan apa yang muncul dalam hati saya. Satu hari setelah tulisan itu saya post-kan, Rino (teman yang dulu kuliah di Newcastle) membacanya. "Kebetulan" salah seorang anggota keluarganya baru saja meninggal dunia.

Tulisan yang sederhana itu tiba-tiba saja memiliki arti yang lebih dalam bagi salah seorang pembacanya; tanpa saya tahu sebelumnya, tanpa pernah saya rencanakan.

Apa yang terjadi kalau saya tidak pernah berani untuk menuliskannya dan mengirimkannya?

Saya tidak merencanakan agar tulisan itu akan menyentuh hati orang lain. Saya tidak pernah tahu bahwa ada teman yang sedang kehilangan keluarga. Saya tidak mengira Tuhan bisa memakai tulisan itu untuk memberkati orang lain.

Saya tidak tahu banyak hal, saya tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi. Namun, Tuhan tahu. Ia melihat segala sesuatu. Ia telah mengetahui "the big picture", saya hanya melihat satu keping dari jigsaw puzzle kehidupan ini.

***

Beberapa minggu lalu, seorang teman menceritakan kisah ini kepada saya.

Bertahun-tahun yang lalu, Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat dalam perlombaan untuk menguasai ekspedisi ke luar angkasa (space race).

Ilmuwan dan insinyur dari kedua negara tersebut terus-menerus berada di dalam kompetisi yang sangat ketat untuk menemukan terobosan teknolologi yang akan membuat negara mereka selangkah lebih mau dari negara saingannya.

Salah satu bidang yang membuat pusing para ilmuwan NASA (lembaga antariksa AS) adalah: menemukan tinta yang bisa digunakan di ruang tanpa bobot di dalam pesawat luar angkasa. Puluhan bahkan ratusan ribu dollar dihabiskan untuk menemukan formula tinta "ajaib" tersebut. Ratusan bahkan ribuan jam dihabiskan untuk melakukan riset dan eksperimen.

Anda tahu apa yang dilakukan oleh Uni Soviet? Mereka menulis memakai pensil!

Seringkali, kita sibuk mencari-cari apa yang tidak ada; padahal apa yang kita butuhkan sebenarnya telah tersedia di depan mata.

Banyak orang percaya yang tidak pernah berani melangkah untuk melakukan sesuatu oleh karena mereka terus-menerus merasa kurang, belum dewasa, tidak punya karunia, minim talenta, dan segudang alasan yang lain.

Terlalu banyak orang yang menunggu agar ia lebih dulu "sempurna" sebelum mulai bekerja. Beberapa orang menghabiskan jam-jam doanya untuk meminta karunia-karunia Roh yang adi kodrati (supranatural), karena berpikir bahwa tanpanya ia tidak akan pernah berguna.

Kadang, kita begitu sibuk memikirkan hal-hal yang terlalu besar atau tinggi tentang diri kita. Apalagi, ketika kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, yang di mata kita memiliki puluhan kelebihan yang tidak kita miliki.

Kita ingin seperti dia, dan kita berpikir bahwa kita hanya akan berguna kalau kita pun memiliki semua kelebihan itu. Kita lupa untuk menilai diri kita "menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing" (Roma 12:3).

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30), sang Tuan menunjukkan penghargaan yang persis sama kepada hamba yang memiliki 5 talenta maupun 2 talenta. Ia menghargai mereka bukan berdasar berapa talenta yang mula-mula mereka miliki, namun berdasar apa yang mereka lakukan dengan talenta itu.

Kalau saja hamba dengan 1 talenta itu mau bekerja mengembangkan talentanya, pastilah ia akan mendapat penghargaan yang sama dari sang Tuan.

***

Kita tidak perlu menunggu lagi. Kita bisa mulai bergerak sekarang, dengan apa yang kita punya, dengan apa yang kita bisa. Keluar dari kotak egoisme, lepas dari belengu rasa rendah diri. Memperhatikan orang lain, melakukan sesuatu; sekalipun sederhana dan kelihatannya tidak berarti apa-apa.

Kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang diterima orang lain dari tindakan kita yang paling sederhana. Tapi Tuhan tahu.

Saya meyakini prinsip "siapa mempunyai, ia akan diberi" (Matius 25:29). Kalau kita berani mulai melakukan sesuatu, dengan hati tulus dan nurani yang murni, maka Tuhan yang akan menambahkan kemampuan, talenta, karunia, dan entah apa lagi namanya, untuk makin melengkapi kita.

Dan jangan kaget, kalau kita setia melakukannya, kita akan mendapati bahwa Tuhan mulai mempertajam kepekaan hati kita kepada keadaan orang lain; sampai-sampai kita seolah-olah bisa "meramalkan" kebutuhan orang. Sehingga ketika kita melakukan atau mengatakan sesuatu, sesuatu itu begitu "tepat" memenuhi kebutuhan orang lain.

Jangan menghabiskan waktu untuk menemukan tinta ajaib. Ambillah pensil yang sekarang tergeletak di atas meja.

Monday, February 27, 2006

Name Dropping

Dalam sebuah kebaktian hari Minggu, ada beberapa tamu dari Jakarta berkunjung ke salah satu gereja di luar negeri. Seperti biasa, anggota jemaat pun berkenalan dengan mereka, atau lebih tepatnya: dikenalkan dengan mereka.

Kebetulan, ada salah seorang anggota jemaat di gereja itu yang memiliki hubungan famili dengan salah satu tokoh Nasional (walau sudah mantan) di Indonesia. Nah, seperti lazimnya kebiasaan orang Indonesia, ketika anggota jemaat ini diperkenalkan, tidak lupa (dengan berbisik-bisik, tentunya) sang pembawa tamu berkata: "Mas ini adalah keponakan dari...".

Hanya dalam hitungan detik, status si Mas tersebut naik beberapa level. Yang semula "hanya" dipandang sebagai mahasiswa biasa, sekarang menjadi mahasiswa plus keponakan dari Bapak Anu.

***

Saya mencari istilah dalam bahasa Indonesia yang mewakili praktek pendongkrakan status ini, tapi nggak ketemu. Dalam bahasa Inggris, praktek ini punya sebutan tersendiri, yaitu name dropping.

Sebuah kamus mendefinisikan name dropping sebagai: the practice of casually mentioning important people in order to impress your listener. Menyebut nama orang penting dalam rangka membuat orang lain terkesan kepada kita.

Celakanya, praktek ini selalu berkonotasi negatif. Apalagi di Indonesia, yang ikatan kekeluargaan masih sangat kental. Nama orang penting adalah aset yang sakti, kadang lebih sakti daripada kekayaan, dan jelas sudah terbukti lebih sakti daripada gelar akademik.

Oh ... saya tidak sedang mengatakan bahwa bapak yang memperkenalkan si Mas tadi berniat buruk, lho. Sama sekali tidak. Saya tahu pasti hati beliau sama sekali bersih dari motivasi atau niat buruk. Saya mengerti bahwa tidakan beliau dalam rangka menunjukkan penghargaan beliau kepada si Mas.

Tetapi, pada kenyataan hidup sehari-hari, praktek name dropping sering dipakai untuk menipu atau memeras orang. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang mengaku sebagai keluarga pejabat (entah keluarga betulan atau jadi-jadian), menggunakan hubungan kekerabatan itu untuk mencari keuntungan pribadi.

Name-dropper profesional menggunakan praktek ini untuk menguras uang atau memenangkan proyek, sedang yang amatiran "cuma" untuk menaikkan status agar orang tahu bahwa dia bukanlah orang sembarangan.

***

Ada salah satu penulis buku di Alkitab, yang sebenarnya bisa melakukan praktek name dropping untuk menaikkan statusnya. Namanya: Yakobus atau James dalam bahasa Inggris. Dia sama sekali bukan orang sembarangan, sebab dia adalah saudara laki-laki Tuhan Yesus (anak dari pasangan Yusuf dan Maria).

Bayangkan, menjadi saudara laki-laki dari Raja segala raja dan Tuan segala tuan! Kalau saja Yakobus ini butuh untuk menaikkan statusnya, dia cukup bilang: "Kenal Tuhan Yesus nggak? Saya saudara kandung-Nya, lho..."

Tidak hanya itu, Yakobus adalah seorang tokoh yang sangat berpengaruh di kalangan Gereja mula-mula; sampai-sampai Rasul Paulus menyebutkan ada sekelompok jemaat yang merupakan "kalangan Yakobus" (Galatia 2:9). Ini menunjukkan bahwa Yakobus memiliki massa yang cukup banyak.

Tetapi, ketika menulis suratnya, Yakobus memperkenalkan diri dengan cara: "Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada keduabelas suku di perantauan." (Yakobus 1:1). Begitu bersahaja, begitu low profile, begitu rendah hati. Yakobus tahu, bahwa bukan hubungan darah yang menentukan dekat-tidaknya seseorang dengan Tuhan Yesus.

Mungkin, dia selalu teringat sebuah peristiwa di masa lalu; ketika ia masih belum percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias. Saat itu, keluarga-Nya hendak membawa-Nya pulang, karena mengira Tuhan Yesus sudah tidak waras (Markus 3:21). Ketika mereka menemukan Tuhan Yesus, mereka menunggu di luar dan menyuruh orang untuk memanggil-Nya (Markus 3:31).

Respon Tuhan Yesus: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku? ... Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Markus 3:33,35).

Bukan hubungan kekeluargaan yang penting, tetapi komitmen dan ketaatan pribadi kepada Tuhan lah yang menentukan.

***

Saya jadi ingat sebuah cerita yang lain: tentang seorang jenderal di Indonesia. Pada waktu ia masih militer aktif, semua anggota keluarga besar yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya selalu membawa kartu nama sang jenderal di dalam dompet mereka. Setiap kali mereka melanggar aturan lalu lintas, mereka selalu lolos dari hukuman atau denda. Caranya gampang: cukup tunjukkan kartu nama itu, maka tak satupun polisi di Indonesia ini yang berani untuk menilang mereka.

Kalau kita memiliki komitmen dan ketaatan yang jelas kepada TuhanYesus, kita disebut-Nya sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, atau ibu-Nya. Maka, di dompet kita akan selalu ada selembar kartu nama. Bukan kartu nama jenderal, bukan kartu nama menteri, bukan kartu nama konglomerat, tetapi kartu nama Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan.

Dan kalau kartu namaTuhan Yesus yang kita keluarkan, adakah pintu yang akan tertutup selamanya? Adakah laut yang tak terseberangi? Adakah kuasa yang sanggup menghalangi? Adakah yang mustahil bagi NamaNya? Yohanes 16:24 mencatat: "Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu."

Nah, kalau suatu kali kita perlu melakukan name dropping, jangan sebut nama yang lain, tetapi hanya satu nama saja: Nama Tuhan Yesus.

Friday, February 24, 2006

The Mildura Accident

Minggu ke-3 Februari 2006, media massa Australia dipenuhi dengan berita pemakaman 5 remaja yang menjadi korban tabrak lari di Mildura. Tanggal 18 Februari 2006 jam 9.50 malam, serombongan remaja pergi menghadiri sebuah pesta ulang tahun. Sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak mereka, akibatnya 5 remaja meninggal dan 8 lainnya luka-luka.

Acara pemakaman yang menyayat hati itu diliput oleh semua media massa Australia. Berulang-ulang, gambar keluarga dan teman-teman yang menangisi kepergian ke-5 remaja itu ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.

Di dalam kebaktian pemakaman tersebut, banyak orang maju ke mimbar untuk mengatakan kalimat-kalimat penghiburan. Kebanyakan dari mereka menceritakan kenangan manis yang mereka miliki selama ke-5 remaja itu masih hidup. Mereka menyebutkan betapa anak-anak itu adalah pribadi yang menyenangkan, berwatak baik, dan sebagainya. Tak ada satupun orang yang berkomentar buruk atau yang menceritakan pengalaman yang tak menyenangkan bersama anak-anak remaja tersebut.

***

Hercule Poirot—tokoh detektif dalam novel Agatha Christie—pernah berkata: ”Aku ingin ketemu dengan seseorang yang belum tahu bahwa si korban sudah meninggal”. Ketika ditanya mengapa, Poirot menjawab: ”Untuk mengetahui kebenaran. Sebab, biasanya orang hanya mengatakan hal-hal yang baik tentang seseorang yang sudah meninggal.”

Komentar itu ada benarnya. Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang baik dari kenalan atau keluarga yang telah meninggal. Kita berusaha “memaafkan” dan melupakan pengalaman buruk atau kenangan pahit bersama orang itu, dan mengabadikan peristiwa yang menyenangkan dengannya.

Tanpa sadar, kita pun melakukannya kepada orang yang mungkin sangat jahat kepada kita ketika dia masih hidup. Kita akan berkata: ”Dia tidak seluruhnya jahat. Ada banyak hal-hal yang baik di dalam dirinya.” Padahal, semasa dia hidup, kita tidak mampu mengeluarkan satu pun komentar positif tentangnya.

Mengapa kita baru bisa menghargai sesuatu atau seseorang ketika sesuatu atau seseorang itu sudah tidak ada lagi? Mengapa kita baru bisa melihat kebaikan seseorang atau sesuatu setelah kita kehilangan mereka?

***

Saya sangat suka membaca. Kalau saja mungkin (dan kadang-kadang saya lakukan juga), saya ingin menghabiskan satu hari penuh untuk tinggal di tempat yang tenang dan membaca—hanya membaca. Ketika masih di Solo, beberapa kali saya ditegur Rut: ”Kalau anak-anak masih bangun, mbok jangan membaca. Mainlah bersama mereka. Kamu bisa membaca nanti kalau mereka sudah tidur.”

Saya diingatkan bahwa mereka, anak-anak saya, hanya sebentar saja akan bersama-sama dengan saya. Ketika mereka menginjak usia SMP atau SMA, mungkin mereka sudah malu dan malas untuk bermain bersama saya—mereka akan sudah punya dunia sendiri. Dan itu tinggal beberapa tahun lagi.

Ketika saya masih tinggal bersama-sama mereka, kadang saya kurang menghargai waktu untuk menemani mereka; karena saya sibuk dengan pekerjaan atau asyik dengan hobby saya sendiri. Sekarang, setelah terpisah cukup lama; baru terasa betapa berharganya waktu-waktu itu. Kadang saya ”menyesali” keterpisahan saya dengan mereka: tidak bisa mendengar kata pertama yang terucap, tidak bisa melihat gigi pertama tumbuh, tidak bisa menyaksikan jatuh bangunnya ketika belajar berjalan.

***

Rasul Yohanes pernah menulis: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yohanes 1:16). Alkitab versi NIV mencatatnya demikian: ”From the fullness of His grace we have all received one blessing after another.” Nabi Yeremia berkata: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu” (Ratapan 3:22-23).

Mumpung masih bisa menikmatinya setiap hari, mari belajar untuk menghargai setiap kebaikan dan berkat yang kita terima.

Udara segar pagi yang memenuhi paru-paru kita. Tubuh yang sehat untuk menyapu lantai toko atau berjalan mengantar pamplet. Mobil yang langsung menyala ketika kunci kita putar. Rumah yang melindungi kita dari panas dan hujan. Bau nasi hangat di pagi hari. Aroma kopi panas di meja makan. Celoteh anak-anak yang bermain. Waktu mengobrol dengan pasangan hidup. Saat tertawa bersama teman-teman dekat.

All of them--no matter how small or simple--are the most precious blessings. Never take them for granted. Hargai semua itu, bersyukurlah untuknya setiap hari. Jangan menunggu sampai kita kehilangan, untuk kita baru bisa menghargainya. Jangan sampai terlambat.

Sang Akuntan dan Tim Pencari Fakta

Suatu hari, setelah sepanjang hari berkhotbah, Tuhan Yesus melihat bahwa hari mulai sore dan Ia tahu bahwa ribuan orang yang mendengarkan khotbahnya belum makan sama sekali. Maka, Tuhan Yesus memutuskan untuk memberi mereka makan.

"Di mana kita bisa membeli roti untuk mereka?" tanyaNya kepada Filipus.

Rupanya, Filipus ini pandai matematika. Bagai seorang akuntan, ia dengan cepat melakukan kalkulasi di luar kepala dan menjawab, "Wah... uang 8 bulan gaji pun tidak akan cukup untuk memberi mereka satu gigit roti!"

Murid yang lain, yaitu Andreas, memberikan respon yang berbeda. Bagai seorang anggota Tim Pencari Fakta, dia langsung pergi ke tengah-tengah orang banyak. Mungkin dia menanyai satu per satu atau memeriksa barang bawaan mereka. Dan ia bertemu dengan seorang anak yang membawa bekal makanan. Dan entah bagaimana caranya, ia berhasil membujuk anak itu agar mau menyerahkan bekalnya.

"Ini ada anak yang membawa makanan. Tapi cuma 5 roti dan 2 ikan. Mana cukup untuk sekian banyak orang?" lapor Andreas kepada Tuhan Yesus.

Kita semua tahu apa yang kemudian terjadi. Tuhan Yesus memberkati ke 5 roti dan ke 2 ikan itu, memerintahkan murid-murid untuk membagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang, dan sisanya 12 keranjang.

***

Saya terkesan dengan respon kedua murid Tuhan Yesus, Filipus dan Andreas, ketika mereka menghadapi sebuah krisis dalam hidup mereka. Masing-masing memiliki respon yang berbeda. Dan sepertinya, kedua respon tersebut mewakili respon dari kebanyakan kita di dalam menghadapi krisis di dalam hidup kita.

Ketika sebuah krisis besar terjadi (krisis itu bisa berupa masalah yang harus diselesaikan atau kebutuhan yang harus dipenuhi), sebagian orang bereaksi seperti Filipus: melakukan kalkulasi, menghitung, membayangkan, membuat estimasi, dan segala macam aktivitas mental lainnya—yang akhirnya sampai kepada kesimpulan: krisis ini terlalu besar dan mustahil untuk diatasi.

Sebagian orang memiliki respon seperti Andreas: tidak hanya diam dan membayangkan besarnya persoalan, namun mulai bergerak maju untuk melakukan sesuatu, mencari alternatif dan mencobanya satu per satu. Dan ketika mendapati betapa powerless-nya usaha itu bila dibandingkan dengan krisis yang harus dihadapi, ia pun sampai kepada kesimpulan yang sama: krisis ini terlalu besar dan mustahil untuk diatasi.

***

Respon seperti di atas akan terlihat jelas, pada saat orang belajar untuk memberikan perpuluhan. Ketika orang mengetahui bahwa Firman Tuhan memerintahkan agar kita memberikan 10% dari penghasilan kita (lihat Maleakhi 3:10), ada dua respon yang biasanya muncul.

Respon pertama: orang melakukan kalkulasi. Pemasukan: uang bea siswa sebulan sekian, gaji sebagai kitchen-hand sekian, upah mengantar pamplet sekian. Kemudian pengeluaran: sewa rumah sekian, bahan makanan sekian, listrik dan telepon sekian, bensin dan perawatan mobil sekian, dan untuk sekolah anak-anak sekian. Kesimpulannya: "Lha wong 100% gaji saja cuma pas-pasan, dan bahkan mungkin kurang... apalagi kalau harus dipotong 10%."

Komentar ini sangat sering terdengar, apalagi di Indonesia, di kalangan jemaat Tuhan yang bekerja sebagai pegawai negeri biasa (terutama dosen golongan III/a seperti saya, he-he-he). Dengan pemikiran seperti itu, orang tidak berani memberikan persembahan sesuai Firman Tuhan.

Respon kedua: orang mau mencoba. Begitu terima gaji, dengan tekad bulat, ia menyisihkan 10% untuk persembahan. Dan sambil menunggu waktu untuk memberikannya besok hari Minggu, persembahan itu disimpan dulu (entah di bawah bantal, di dalam celengan Jago, atau dimasukkan tabungan di bank).

Namun, ketika waktu mulai berjalan, kebutuhan hidup bermunculan, dan bahkan mungkin ada pengeluaran-pengeluaran tak terduga; kekuatiran mulai datang—dan puncaknya adalah: uang persembahan yang masih tersimpan tadi "dipinjam" lagi untuk membayar ini dan itu. Hasil akhirnya sama saja: kita tidak jadi memberikan sesuai dengan Firman Tuhan.

***

Ah, kalau saja kita cukup berani untuk mempercayai janji Tuhan. Kalau saja kita benar-benar mengenal Allah yang kaya itu. Kalau saja kita sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa menghutangi Tuhan. Kalau saja kita berani beriman dan taat kepada perintahNya. Di akhir bulan, kita tidak akan mendapati angka minus pada anggaran kita; namun justru sibuk mengumpulkan potongan roti dan ikan itu sampai 12 keranjang penuh.

Andalan yang Dihancurkan Tuhan

Pada salah satu khotbah dalam ibadah Minggu, Pendeta kami mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa kita diijinkan mengalami pergumulan adalah: Tuhan ingin menghancurkan andalan kita, sehingga kita hanya bergantung kepadaNya saja.

Memikirkan kembali khotbah tersebut, saya jadi teringat kepada perjalanan hidup Yusuf--anak kesayangan Yakub. Saya melihat, Tuhan melakukan hal yang sama kepadanya: mengijinkan penderitaan dan pergumulan datang supaya Yusuf bergantung mutlak kepada Tuhan saja, dan tidak mengandalkan apapun juga.

Apa saja yang selama ini menjadi andalan Yusuf?

Yusuf adalah anak emas Yakub (Kejadian 37:1-36), dia mendapat perlakuan yang sangat istimewa bila dibandingkan dengan ke-11 saudaranya yang lain. Selama Yusuf berada di dalam perlindungan Yakub, tak ada satupun orang yang bisa menyentuhnya. Maka, Tuhan mengijinkan Yusuf untuk dipisahkan dari ayahnya. Saudara-saudaranya mulai iri hati, dan akhirnya menjualnya menjadi budak. Yusuf kehilangan andalannya yang pertama: perlindungan ayahnya.

Di Mesir, Yusuf bekerja sebagai budak di rumah Potifar. Ia adalah seorang yang rajin dan Tuhan memberkati pekerjaannya, sehingga karirnya terus menanjak, sampai akhirnya ia menjadi kepala rumah tangga di kediaman Potifar. Semua kekuasaan di rumah tangga itu diserahkan kepada Yusuf.

Mungkin, Yusuf mulai merasa nyaman dengan prestasinya; maka Tuhan mengijinkan sebuah persoalan menimpanya. Ia difitnah oleh istri Potifar, sehingga akhirnya ia dilemparkan ke dalam penjara (Kejadian 39:1-23). Yusuf kehilangan andalannya yang kedua: prestasi kerja.

Di dalam penjara, Yusuf bertemu Juru Makanan dan Juru Minuman yang dituduh mencoba membunuh Firaun. Yusuf menafsirkan mimpi mereka. Dan ia titip pesan kepada Juru Minuman, supaya kalau nanti dia sudah dibebaskan oleh Firaun, dia mengadukan kasus Yusuf kepada Firaun sebagai balas jasa. Tafsiran mimpi Yusuf menjadi kenyataan. Juru Minuman dibebaskan.

Namun, setelah bebas, Juru Minuman lupa kepada Yusuf. Mungkin hari demi hari, Yusuf menunggu berita darinya--dan tak pernah ada kabar apapun. Tuhan mengijinkan Yusuf untuk kecewa, Ia mengambil andalannya yang ketiga: jasa baik kepada orang lain.

Dua tahun penuh berlalu semenjak Juru Minuman itu dibebaskan, Firaun mendapat mimpi. Baru saat itulah sang Juru Minuman teringat kepada Yusuf. Mungkin saat itu, Yusuf sudah melepaskan semua harapannya untuk bebas dari penjara.

Ketika Yusuf sudah kehilangan semua bisa menjadi andalannya, ketika Yusuf sudah tidak punya pengharapan dan tempat bergantung lagi kecuali kepada Tuhan, saat itulah Tuhan menyatakan diri. Dalam waktu 1 malam, Yusuf diangkat statusnya dari seorang narapidana menjadi seorang Perdana Menteri.

Terlalu mudah bagi Tuhan untuk melepaskan kita dari masalah kiti. Terlalu gampang bagiNya untuk memberikan apa yang kita inginkan. Namun, bagi Tuhan, yang paling penting adalah: perubahan karakter kita, supaya kita hanya mengandalkan Dia.

Ketika kita sudah putus asa, ketika kita sudah tidak tahu lagi kepada harus berlari minta tolong, ketika semua usaha kita sepertinya selalu menabrak tembok. Saat itu, kalau kita sadar untuk berpaling kepada Tuhan dan hanya bergantung kepadaNya; saat itulah kita akan melihat pernyataan kuasa dan kasihNya.

Cangkir "SUBARU"

Hari Minggu lalu (19/02/06), jemaat GBI Immanuel Newcastle membuat peringatan ulang tahun untuk saya. Begitu banyak kado yang saya terima, mulai dari buku, kemeja, dan kosmetik (lho, jangan salah sangka dulu--ini bukan lipstik, bedak atau eye shadow, tetapi seperangkat bahan perawatan tubuh untuk pria: shave foam, sabun muka, dan after shave lotion).

Pulang dari gereja, saya memberitahu Rut, istri saya, tentang acara itu lewat sms. Rut menjawab begini: Waktu Wening (anak pertama saya) diberitahu bahwa Pap dapat banyak kado, dia langsung "iri" dan berteriak, "Huuuhh Papi nakal ... dapat banyak kado!"

Seluruh acara itu: semua kado yang diberikan, semua kartu, dan setiap jabat tangan serta ucapan selamat yang saya terima merupakan cerminan betapa banyak orang yang memperhatikan dan menyayangi saya. Terima kasih.

Kalau sekarang saya ingin bercerita tentang salah satu kado yang saya terima, itu bukan berarti saya tidak menghargai kado-kado yang lain, lho. Oh, saya sangat menghargai setiap bentuk perhatian dari teman-teman. Tetapi, ijinkan saya membagikan betapa tersentuh hati saya dengan kado yang satu ini. Ada cerita panjang yang melatarbelakangi kado istimewa ini. Semoga teman-teman cukup sabar untuk membacanya. Please, bear with me for a moment. Kan saya ulang tahun cuma setahun sekali.

Begini ceritanya.

Banyak teman yang tahu bahwa saya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga pak Daud. Mereka sekeluarga--pak Daud, bu Mery, Ryka, dan Richard--sudah seperti keluarga saya sendiri. Begitu seringnya saya main ke rumah mereka, sudah tak terhitung berapa kilo nasi (beserta lauk-pauk) maupun berapa liter Pepsi yang saya konsumsi di sana. Ratusan atau bahkan ribuan kilometer jarak yang kami tempuh untuk bepergian bersama-sama. Entah berapa ratus jam yang sudah kami habiskan untuk ngobrol (pernah lho, kami ngobrol sejak pulang dari gereja sampai jam 3 pagi).

Setiap kali saya berkunjung ke rumah pak Daud, ada satu acara yang nyaris tidak pernah lowong, yaitu: "bertengkar" dengan Richard soal sebuah cangkir. Di rumah itu ada banyak cangkir, namun di antara sekian banyak cangkir yang ada, saya selalu memakai cangkir yang sama. Cangkir berwarna putih dengan tulisan "SUBARU" warna biru.

Kebetulan, Richard juga suka untuk menggunakan cangkir itu. Jadi kami suka berebut, saling mendahului untuk memakainya. Seringkali, kalau tahu saya akan datang, Richard akan dengan sengaja menyembunyikan cangkir itu: di dalam lemari es, di dalam kamar, bahkan pernah di belakang heater di bawah meja. Ketika saya bilang bahwa saya akan membawa cangkir itu pulang, Richard akan dengan mati-matian melarangnya. Ketika saya bilang bahwa saya akan menuliskan nama saya di cangkir itu, Richard dengan semangat akan mencoretnya: "I will cross it out, om Hast", katanya.

Sekitar 2 minggu lalu, kami kembali "bertengkar" soal cangkir itu--dan karena saya agak keterlaluan menggodanya, Richard benar-benar emosi dan sudah hampir menangis. Di akhir perdebatan kami, Richard berkata: "Om Hast, if you are really want to be my friend, then don't take that cup home." Wah, mendapat ultimatum seperti itu tentu saja saya menyerah. Saya mau tetap jadi temannya. Jadinya, kami baikan lagi. Oh iya, sebelum lupa, Richard berusia 5 tahun dan saya 35 tahun. Ah, cuma selisih 30 tahun kok. Nggak beda jauh, kan?

Dan tahukah teman-teman apa yang terjadi kemarin?

Setelah acara kebaktian selesai, Richard mendatangi saya dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Kemudian, dengan wajah yang sangat serius dia berkata: "Om Hast, this is for you." Ia mengulurkan sebuah bingkisan kepada saya. Sebuah benda terbungkus kertas warna coklat, diikat dengan tali plastik yang panjangnya minta ampun--sampai susah membukanya. Dari bentuknya saya tahu bahwa itu adalah sebuah cangkir. Dan karena Richard yang memberikannya, saya tahu bahwa itu adalah cangkir "SUBARU".

Belakangan, saya baru tahu ceritanya secara lengkap dari bu Mery. Ternyata, beberapa hari sebelumnya, ketika tahu bahwa saya akan berulang tahun, Richard sudah memutuskan untuk memberikan hadiah buat saya. Dan di matanya, hadiah yang paling berharga bagi saya adalah cangkir itu. Cangkir yang selama ini dipertahankannya mati-matian supaya tidak saya bawa pulang, sekarang dengan sukarela diberikan sebagai hadiah untuk saya.

Bu Mery bercerita bagaimana Richard membungkus sendiri cangkir itu. Ia menolak ketika kakaknya ingin membantunya. Kemudian dia menuliskan sendiri namanya besar-besar di selembar kartu untuk diikatkan ke kado itu. Satu-satunya bantuan yang diterimanya adalah untuk menuliskan ucapan selamat ulang tahun--dan itu karena memang dia sama sekali tidak mampu melakukannya.

Ketika saya buka bingkisannya, masih tercium bau agak aneh dari cangkir. Mungkin cangkir itu belum dicuci, tapi langsung diambil begitu saja untuk dibungkus. It doesn't matter. Saya tahu, Richard tidak mengeluarkan uang satu sen pun untuk membelinya. It doesn't matter. Cara Richard membungkusnya sama sekali tidak rapi, dengan selotip tertempel di sana-sini. It doesn't matter.

One thing that's matter: Richard memberikan apa yang dipandangnya paling berharga bagi saya. Ia memberikan dengan seluruh ketulusan hatinya, dengan seluruh usahanya, dan dengan seluruh rasa persahabatannya. He gave that cup because he knows I like it and because he want to give the best for his friend.

Saya jadi kembali diingatkan: Tuhan tidak pernah melihat apa yang di luar, Ia tidak mengukur dengan ukuran manusia. Ia tidak menilai berdasar besar kecilnya jumlah atau banyak sedikitnya kegiatan. Namun, Ia selalu melihat hati kita: motivasi dan kesungguhan kita. Ia menghargai ketika kita melakukan atau memberikan sesuatu karena kita mengasihi Dia.

Sesampai di rumah, saya langsung mencuci cangkir itu dan menuang kopi panas ke dalamnya. Wah, nikmat sekali. Malam itu saya membuat sebuah komitmen: saya akan terus memakai cangkir ini. Saya akan membawanya pulang ke Indonesia. Saya akan menyimpannya (semoga) sampai saya mati. That cup is one of the most precious gift I've ever had.

Kalau suatu saat teman-teman berkunjung ke rumah saya (entah disini atau di Indonesia atau di manapun juga), dan kalau teman-teman sempat melihat meja kerja saya. Saya jamin, cangkir "SUBARU" itu akan ada di sana.