Thursday, March 30, 2006

Makan Malam Terindah

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat undangan untuk makan malam di rumah salah satu keluarga. Tidak ada yang berulang tahun, tidak ada yang wisuda, tidak ada peristiwa khusus yang dirayakan. Semata-mata datang untuk makan bersama. Keluarga yang satu ini memang punya kebiasaan mengundang makan, terutama para bulok (bujangan lokal) yang sangat terbatas keragaman menu makannya (kalau bukan telor ceplok atau indomie rebus ya fish & chip dan burger, he...he...he...).

Tapi, acara makan malam kemarin itu tidak semata-mata untuk memberikan peningkatan gizi kepada para bulok itu. Soalnya, yang datang ternyata berasal dari kalangan yang lebih luas. Dari sepasang ibu dan anak perempuannya yang paling setia mencuci piring di Gereja, sampai bapak-ibu dari Medan yang hendak menunggui kelahiran cucunya. Dari pengantin baru yang menikmati suasana bulan madu, sampai suami-istri yang sedang menanti kelahiran anak keduanya. Dari mahasiswi baru yang masih menderita homesick, sampai mahasiswa lama yang stress karena thesisnya nggak selesai juga. Dan tak ketinggalan, ibu-ibu yang begitu perkasa dalam melakukan peran mereka sebagai single parent.

Acaranya? Wah, jangan ditanya lagi. Lebih daripada cuma sekedar makan bersama. Beragam! Mulai dari ngobrol ngalor-ngidul, menyanyikan lagu-lagu Batak dan Mangarai, menari poco-poco, cha-cha, dan rock & roll, sampai dengan rapat gelap para cleaner profesional. Pokoknya komplit!

Akan tetapi, bukan semua kemeriahan dan hingar bingar itu yang paling berkesan di hati saya. Bukan lagu, obrolan, canda, dan lezatnya masakan yang membuat saya terus mengenang malam itu.

***

Sesaat sebelum kami mulai menyantap hidangan, seorang Ibu diminta untuk memimpin doa. Beberapa orang mendorong dan memberi semangat kepada Ibu ini, oleh karena beliau kelihatan sungkan dan merasa tidak siap. Semula, saya mengira bahwa teman-teman itu hanya bergurau, tetapi ternyata mereka sungguh-sungguh meminta Ibu ini untuk berdoa.

Saya benar-benar speechless, ketika sang Ibu benar-benar memimpin doa. Bertahun-tahun saya mengenal Ibu ini. Bertahun-tahun kami beribadah bersama di Gereja. Dan ini adalah untuk pertama kalinya saya mendengar beliau berdoa di muka umum.

Dan, betapa indah doa yang diucapkannya. That was one of the most beautiful prayer I've ever heard! Begitu menyentuh perasaan. Saya dan beberapa orang benar-benar meneteskan air mata mendengarkan doa itu diucapkan.

Doanya tidak berbunga-bunga atau penuh dengan kata-kata mutiara. Justru sangat sederhana, dengan kata-kata sehari-hari dan bukan kata-kata yang "rohani". Caranya berdoa begitu bersahaja, tidak seperti orang yang berdeklamasi atau berkhotbah di mimbar; namun seperti seorang yang sedang bicara kepada teman yang duduk di depannya.

Lalu mengapa doa itu begitu menyentuh? Saya pikir, mungkin karena doa itu dinaikkan dengan sepenuh hatinya, dengan segala ketulusan nuraninya. Saya bisa merasakan ketulusan itu. Ibu ini tidak sedang pamer kehebatan di dalam berdoa, tidak sedang melakukan pertunjukan, tidak sedang mencari pujian. She did not try to impress anybody, but she tried to express her mind and feeling to the Lord.

***

Ada satu hal lagi yang memenuhi pemikiran saya. Saya terus-menerus bertanya kepada diri saya sendiri: mengapa ibu ini akhirnya berani berdoa di muka umum? Saya mendengar dari seorang teman, bahwa sebenarnya ibu ini sudah lama punya keinginan untuk berdoa di muka umum. Tetapi, mengapa baru sekarang hal itu terwujud?

Apakah selama ini dia merasa tidak siap? Kalau benar begitu, lalu mengapa sampai ada perasaan tidak siap? Apakah dia berpikir bahwa orang lain menuntut suatu standar tertentu di dalam berdoa, dan dia merasa belum mampu mencapai standar tersebut? Apakah selama ini ia merasa minder karena mendengar doa-doa "bagus" yang diucapkan oleh orang lain?

Ataukah, sebenarnya lingkungannya yang menjadi penghalang baginya? Apakah karena selama ini tidak ada satu orang pun yang terpikir untuk memintanya berdoa? Apakah orang-orang di sekitarnya selama ini tidak menampakkan apresiasi dan penghargaan yang memberi dorongan kepadanya? Ataukah selama ini suasana yang ada tidak cukup hangat atau welcome sehingga menimbulkan rasa sungkan dan takut?

***

Saya tidak bisa dengan tuntas menjawab semua pertanyaan itu. And to tell you the truth, I don't really mind. Sebab apapun jawabannya, yang penting malam itu saya diijinkan memperoleh pengalaman yang begitu berharga!

Terimakasih, Saudaraku. Karena telah membuka pintu rumahmu, membuat kami merasa diterima, merasa at home. Sampai-sampai, keramahan suasananya mampu memberikan dorongan dan keberanian bagi seseorang untuk mencurahkan hatinya kepada Tuhan.

Terima kasih, Ibu. Doa Ibu semalam adalah doa yang sangat indah. Saya belajar banyak darinya. Saya mendapat banyak berkat olehnya.

Kesempatan Emas

Sampai sekarang, saya masih suka menonton film animasi. Salah satu film yang saya sukai adalah produksi Disney berjudul Hercules. Film ini berkisah tentang seorang anak muda yang ingin menjadi seorang hero (pahlawan), supaya bisa naik ke gunung Olympus, tempat tinggal para dewa Yunani.

Dalam satu adegan, setelah selesai menjalani training di pulau terpencil, Hercules pergi ke kota Thebes. Thebes adalah kota yang penuh dengan bencana dan persoalan. Hercules merasa ini adalah kesempatan emas baginya untuk menunjukkan kepahlawanannya. Namun, ketika ia memperkenalkan diri, penduduk kota Thebes justru mentertawakannya dan menolaknya. Hercules, dengan putus asa berkata: "Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku seorang hero, kalau tidak pernah diberi kesempatan?"

Ada satu kisah kepahlawanan yang lain. Ada seorang anak muda bernama Daud. Ia sudah dipilih dan diurapi menjadi raja, namun belum ada kesempatan untuk "diorbitkan" agar namanya dikenal oleh rakyat Israel. Karena saat itu, raja Saul yang akan digantikannya masih berkuasa--walaupun sebenarnya sudah kehilangan legitimasi dan pengurapan dari Tuhan. Di mata manusia mungkin Saul masih menduduki posisi sebagai raja, namun di mata Tuhan ia sudah ditolak.

Suatu hari, dalam sebuah peperangan dengan bangsa Filistin, bangsa Israel ditantang untuk melakukan pertarungan satu lawan satu dengan Goliat, seorang raksasa yang punya pengalaman perang. Tak ada satupun tentara Israel, termasuk Saul yang berani maju. Sampai kemudian Daud yang maju untuk menghadapi Goliat. Ah, kita sudah mendengar cerita ini puluhan kali! Kita tahu akhir ceritanya, bukan?

***

Yang menarik perhatian saya dari kisah Daud vs Goliat adalah: mengapa Daud bisa sampai ke medan perang? Dia adalah penggembala domba yang masih remaja--sehingga belum terkena wajib militer. Kakak-kakaknya memang menjadi tentara dalam pasukan Saul, namun Daud sendiri masih belum cukup umur untuk maju berperang. Mengapa dia bisa berada on right place and on the right time--sehingga mendapat kesempatan emas untuk dikenal oleh bangsa Israel?

Isai berkata kepada Daud, anaknya: "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka (1 Samuel 17:17-18)

Satu-satunya alasan mengapa Daud bisa berada di medan perang adalah: karena dia sedang disuruh ayahnya untuk mengirim bekal makanan bagi kakak-kakaknya. Tidak ada yang istimewa dari tugas itu. Itu adalah tugas rumah tangga sehari-hari yang harus dilakukannya sebagai anak bungsu. Namun, kesediaannya untuk mengerjakan tugas yang sepele itu telah membuka pintu kesempatan baginya untuk tampil sebagai pahlawan, sebagai pembunuh raksasa, yang terkenal di seluruh Israel.

***

Keluhan yang diucapkan oleh Hercules di atas sering terdengar di antara kita. Kapan aku mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa melayani, aku juga punya talenta, aku juga punya urapan, aku juga punya kuasa? Ketika kita merasa memiliki sesuatu yang hebat, maka hati kita penasaran untuk memamerkannya, untuk menunjukkannya kepada semua orang. Supaya orang tahu, bahwa kita bukan orang biasa-biasa, namun seseorang yang punya potensi besar bagi kemuliaan Tuhan.

Tidak hanya di gereja atau pelayanan, namun juga di dalam seluruh bidang kehidupan. Di lingkungan kantor, di antara teman-teman sekerja, di dalam organisasi apapun juga, juga di lingkungan RT dan perkumpulan PKK di kampung kita. Semua orang pengin mendapat kesempatan untuk tampil, untuk membuktikan kehebatannya, untuk menunjukkan kemampuannya.

Dan ketika kesempatan itu tidak diperoleh, kita menjadi panas hati dan kecewa. Kita merasa ditolak, tidak dihargai, dan tidak diberi tempat. Kemudian kita mulai memiliki hati yang penuh kritik kepada orang lain. Kita kemudian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain yang mendapat kesempatan. Kita mulai membanding-bandingkan diri kita dengan mereka--dan selalu saja kita bisa menemukan kelemahan mereka, dan kelebihan kita sendiri. Dan ketika habis kesabaran kita untuk menunggu pintu kesempatan itu terbuka, maka kita pun pergi ke tempat lain yang kita pikir akan bisa lebih menghargai kita.

***

Saya pikir, persoalannya bukan pada ada kesempatan atau tidak. Namun, persoalannya ada pada definisi kita tentang apa yang disebut sebagai "kesempatan" itu. Kebanyakan kita mendefinisikan "kesempatan" sebagai sebuah peluang untuk tampil di muka umum, peluang untuk menunjukkan kemampuan kita sendiri kepada banyak orang, untuk membuat orang lain melihat bahwa kita memiliki potensi.

Kita juga mendefinisikan "kesempatan" itu sebagai jenis-jenis aktifitas tertentu yang kita pandang lebih "tinggi" daripada aktifitas yang lain. Ketika kesempatan untuk melayani itu hanya ada di bidang-bidang yang biasa-biasa, yang tidak istimewa/spektakuler, dan yang tidak akan dilihat orang, maka kita tidak memandangnya sebagai "kesempatan". Kita punya kecenderungan untuk hanya ingin melakukan sesuatu yang "hebat", yang akan bisa membuat orang lain mengakui kemampuan kita.

Namun, Tuhan memiliki definisi yang berbeda dari kita. "Engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar" (Matius 25:21). Tuhan selalu menilai seseorang dari kesetiaannya ketika melakukan hal-hal yang kecil dan sepele. Tuhan melihat kesungguhan seseorang ketika ia sedang mengerjakan perkara-perkata yang tidak dilihat oleh orang lain.

Kita menghargai orang berdasarkan besarnya pekerjaan yang dia lakukan. Tuhan menghargai seseorang dari besarnya kesetiaannya untuk hal-hal yang kecil. Bagi Tuhan, sangatlah mudah untuk membawa kita kepada suatu keadaan di mana kita bisa melakukan hal-hal yang besar. Yang dicariNya adalah: hati yang setia dan bisa dipercaya. Mas Gunawan, pembimbing kami di Solo, selalu berkata kapada kami: "Jangan berharap untuk memenangkan satu sekolah atau satu kota, kalau belum bisa membagikan Injil kepada satu orang."

***

Lain kali, kalau kita kita mendapat kesempatan untuk mengantarkan bekal makan siang--atau pekerjaan yang "sepele" lainnya, janganlah kita bersungut-sungut, namun biarlah kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Sebab kita tidak pernah tahu, bisa saja di tengah jalan kita akan bertemu dengan Goliat ... dan Tuhan akan memakai kita untuk mengalahkannya.

Monday, March 13, 2006

Membangun Rumah Tuhan

Sekalipun sudah lebih dari 7 tahun berkeluarga, kami belum juga punya rumah sendiri. Kami memang sering bergurau: “Lebih enak kontrak saja. Bisa gonta-ganti model. Dan kalau bosan dengan tetangga, kita bisa pindah”. Namun sesungguhnya, memiliki rumah yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan keinginan adalah salah satu impian kami. Saya sendiri terus merasa “berhutang” kepada keluarga saya selama impian itu belum terwujud.

Hidup orang percaya seringkali digambarkan sebagai rumah Tuhan. Rasul Paulus pernah menulis: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ... bangunan Allah” (1 Kor. 3:9). Selanjutnya, Paulus menyatakan bahwa ia diberi anugerah Allah untuk berperan sebagai seorang ahli bangunan yang telah meletakkan pondasi kehidupan bagi jemaat, dan sekarang jemaat bertanggung jawab untuk “memperhatikan bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1 Kor. 3:10).

***

Membangun rumah bukanlah sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan sembarangan. Ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi supaya bangunan yang didirikan itu bisa disebut sebagai rumah, sebagai tempat tinggal.

Pertama, sebuah rumah memiliki bagian-bagian esensial (terpenting) yang harus ada. Suatu bangunan bisa disebut sebagai “rumah” tempat tinggal apabila bangunan itu memiliki: pondasi sebagai alas, dinding sebagai pembatas, atap sebagai penutup, dan pintu sebagai jalan keluar-masuk penghuninya.

Apapun bentuknya, apapun bahannya, di manapun lokasinya; apabila sebuah bangunan telah memiliki bagian-bagian esensial tersebut, maka ia akan dapat dijadikan tempat tinggal. Warna cat tembok, merek perabotan, dan hiasan yang akan dipasang adalah hal-hal yang bisa dipikirkan dan didapatkan belakangan.

Apabila bagian-bagian yang esensial itu telah ada, walau belum punya tempat tidur sekalipun, kita sudah bisa tidur di lantai, dan bangunan rumah itu akan melindungi kita dari terpaan angin dan hujan. Tetapi, apakah gunanya kita memiliki spring-bed yang paling mahal dengan bantal bulu angsa dan bed cover berbahan sutra, kalau dinding dan atapnya belum ada?

Kedua, untuk membangun rumah diperlukan “proses yang benar”. Di dalam mendirikan sebuah rumah, seorang ahli bangunan akan mengikuti sebuah prinsip dan cara tertentu: membangun dari bawah—dimulai dengan pondasi, ke atas. Mulai dengan bagian-bagian utama, dan dengan bertahap merampungkan hal-hal yang lebih sekunder.

Pernahkan ditemukan pohon mangga yang berbuah sebelum batangnya tumbuh sempurna? Pernahkah kita melihat seorang ibu yang mengajari bayi berusia 3 bulan untuk membaca? Demikian juga, tidak ada orang yang meletakkan atap rumah lebih dahulu, baru kemudian membangun dindingnya, dan terakhir pondasinya.

Sama seperti pohon yang tumbuh dari sepucuk tunas, sama seperti manusia tumbuh dewasa dari bayi yang mungil; pembangunan rumah pun mengikuti suatu proses yang urut, yang terstruktur, bertahap, dengan program yang jelas tujuannya.

Di dalam membangun rumah, seorang arsitek akan memulai proses itu dengan sebuah gambar rancangan. Rancangan itu mencerminkan tujuan dan selera dari calon penghuninya. Sebelum rumah itu jadi, sang arsitek sudah bisa ”melihat” ujud rumah itu di dalam pikirannya.

Kemudian, seorang insinyur teknik sipil akan menterjemahkan gambar rancangan rumah itu ke dalam sebuah program pembangunan yang rapi: tahap demi tahap, bagian demi bagian, sampai akhirnya keseluruhan bangunan tersebut lengkap berdiri.

***

Memiliki rumah adalah salah satu ”obsesi” setiap keluarga. Dan ketika tiba saatnya untuk membangun rumah, kita akan berusaha untuk mencari arsitek terbaik, pemborong atau tukang terbaik, dan bahan bangunan terbaik yang bisa kita dapatkan. Mengapa? Karena kita ingin memperoleh the best building untuk kita pakai dan kita tinggali dalam jangka waktu yang lama.

Apakah kita memiliki kesungguhan yang sama untuk membangun ”rumah rohani” kita? Rumah rohani itu, hidup kita, adalah tempat kediaman Allah (1 Kor. 3:16); yang akan digunakanNya sebagai pusat puji-pujian dan penyembahan kepadaNya, serta akan dipakaiNya untuk menyalurkan berkat bagi dunia di sekitar kita. Bukan hanya untuk jangka waktu satu-dua atau belasan tahun, namun sampai kepada kekekalan.

Apakah kita akan sembarangan saja di dalam membangunnya? Asal comot bahan, sibuk dengan hal-hal yang sepertinya ”hebat”, tetapi melalaikan pengajaran dan disiplin rohani yang esensial? Asal menjalankan rutinitas kegiatan, tanpa tujuan dan arah pertumbuhan yang jelas?

Rasul Paulus mengingatkan bahwa ”pekerjaan masing-masing orang akan diuji ... jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah” (1 Kor. 3:13,14). Ketika ujian itu datang, ketika hujan dan badai itu turun; bagaimanakah nasib rumah kita? Tetap kokoh di atas batu karang? Ataukah akan hanyut terbawa banjir?

Rumah Duka

Hari Jumat lalu, saya pergi ke rumah duka. Ibu dari salah seorang teman meninggal, maka saya bersama beberapa kawan melayat ke sana. Ini adalah pengalaman pertama melayat di Australia. Beda sekali dengan suasana upacara pemakaman di Indonesia.

Salah satu perbedaan yang menyolok adalah dalam hal pidato sambutan yang dilakukan. Di Indonesia, yang mengucapkan pidato sambutan adalah pak RT, pak Lurah, atasan di kantor, dan sebagainya. Isi pidatonya pun klise, itu-itu saja, dan sama tidak mempunya sentuhan pribadi. Maklum, yang berpidato mungkin tidak pernah mengenal orang yang meninggal.

Yang saya dengar hari ini, beberapa anggota keluarga membagikan perjalanan hidup almarhumah. Mereka menceritakan pengalaman mereka bersamanya dan bagaimana almarhumah telah menyentuh serta mempengaruhi hidup mereka. Begitu personal dan tidak "resmi" sama sekali.

***

Raja Salomo pernah menuliskan: "Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya" (Pengkhotbah 7:3). Saya jadi ingat kalimat yang sering diucapkan oleh Gembala di gereja saya: "Yang penting bukan start-nya, tetapi finish-nya."

Di dalam Alkitab, dicatat ada dua pribadi yang berani berkata bahwa mereka sudah mencapai tujuan akhir ketika mereka meninggal. Pertama, Tuhan Yesus sendiri. Ketika tergantung di atas kayu salib, Ia berkata "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30). Kedua, Rasul Paulus yang berkata: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Timotius 4:7).

Ketika Tuhan Yesus memulai pelayananNya, Ia sudah jelas mengetahui tujuan hidupNya, yaitu: mati di atas kayu salib sebagai tebusan bagi dosa kita. Dan di dalam perjalanan menuju Golgota itu, selama 3 tahun penuh Ia mengisi kehidupanNya dengan kegiatan yang ditetapkan oleh BapaNya.

Seluruh kehidupanNya terangkum di dalam ayat-ayat ini:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Lukas 4:18,19).
Ketika Dia menghembuskan nafas terakhirnya di kayu salib, kita tahu, bahwa setiap tujuan yang dinubuatkan di dalam ayat-ayat itu telah dilakukanNya. Maka, Tuhan Yesus bisa dengan tegas mengatakan "Sudah selesai!".

Demikian pula Rasul Paulus. Pada saat ia bertobat, Tuhan telah menyatakan dengan jelas apa tujuan Tuhan bagi hidupnya: menjadi pelayan dan saksi Tuhan Yesus yang diutus kepada bangsa-bangsa untuk memberitakan Injil sehingga bangsa-bangsa berbalik kepada Tuhan (Kisah Rasul 26:16-18).

Kita tahu, Alkitab mencatat sepak terjang Rasul Paulus di dalam melakukan rencana Tuhan ini. Dan siapapun mengakui bahwa ia telah melakukan semua yang diinginkan Tuhan atasnya. Paulus pantas untuk berkata bahwa ia sudah menyelesaikan pertandingan dengan baik, dan tinggal menerima hadiahnya.

***

Setiap kali saya pergi ke rumah duka, selalu saja pertanyaan ini muncul: Pada hari penguburan saya, apakah yang akan dikatakan orang tentang hidup saya? Apakah keluarga, teman-teman, dan siapapun yang mengenal saya bisa mengatakan hal-hal yang baik tentang saya?

Namun, sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk saya tanyakan: Pada hari saya dipanggil pulang, apakah yang akan dikatakan Tuhan tentang saya? Apakah saya sudah melewati garis akhir? Apakah saya sudah mencapai tujuanNya bagi saya?

Kerinduan saya adalah, ketika saya pulang ke dalam kekekalan, Bapa saya akan berkata: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia ... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu".