Saturday, April 29, 2006

Piala Wening

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat SMS dari Rut, istri saya. Saya diminta membuat satu kalimat penghargaan untuk Wening. Katanya, kalimat itu akan di-grafir di sebuah piala. Tentu saja saya bertanya: ”Piala apa?” Rupanya, dalam rangka Perayaan Paskah, Wening ikut lomba menyanyi di sekolahnya. Hanya saja, dia belum memenangkan lomba itu, sehingga tidak mendapat piala. Dan itu membuat Wening sangat sedih. Rut kemudian memutuskan untuk membelikan piala sendiri bagi Wening. Saya sangat setuju dengan keputusan itu.

Inilah kalimat yang ter-grafir di piala itu: ”Diberikan kepada Wening sebagai penghargaan untuk keberaniannya maju ikut lomba menyanyi di sekolah.” Kalimat itu ditulis dalam bahasa Inggris, karena kami ingin agar Wening tahu, bahwa sayalah yang membuat kalimat itu; sehingga dia tahu bahwa walaupun terpisah jauh, ayahnya masih bisa terlibat di dalam hidupnya.

Ketika Rut menyerahkan piala itu kepada Wening, ia memberikan penjelasan bahwa piala itu bukan dari sekolah; dan diberikan bukan karena Wening menang lomba menyanyi. Tetapi, piala itu dari Pap dan Mam, karena kami bangga Wening sudah berani maju ikut lomba. Can you guess how she responded? Gembiranya minta ampun! Kata Rut, dalam beberapa malam piala itu dikeloni Wening dalam tidurnya!

Berapa sih harga piala itu? Tidak sampai 50 ribu rupiah. Seberapa susah sih untuk pergi membeli dan meng-grafirnya? Tidak susah sama sekali—semua orang pasti bisa melakukannya. Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk menyusun kalimat penghargaan itu? Tidak sampai 1 menit. Jadi, kalau diukur dari harga dan tingkat kesulitan untuk membuatnya, sebenarnya piala itu sangat kecil nilainya.

Tetapi, bagi Wening, dan bagi kami berdua, piala itu punya arti yang sangat besar. Karena, itu adalah simbol penghargaan kami, lambang penerimaan kami kepada Wening: walaupun dia tidak menang, walaupun dia tidak mendapat penghargaan dari sekolah, kami tetap menerima dia dan tetap mencintai dia.

***

Setiap kali saya punya kesempatan untuk belajar tentang kehidupan Tuhan Yesus, saya selalu saja dibuat kagum dengan keyakinan DiriNya. Tidak ada satupun yang membuatNya grogi. Ia tidak pernah salah tingkah atau besar kepala ketika dipuji. Ia tidak pernah stress atau bersedih ketika dimaki.

Tidak ada orang yang bisa membuatNya sakit hati, tidak ada satu keadaan apapun yang bisa membuatNya putus asa. Bahkan, ketika penolakan orang kepadaNya itu mencapai klimaks di kayu salib, Ia tidak mengalami kepahitan, Ia tidak marah atau mendendam, justru Ia berdoa agar Tuhan mengampuni mereka.

Apa rahasiaNya? Bisakah saya memiliki rasa aman (security) seperti itu di dalam batin saya?

Saya sadar, bahwa saya belum memiliki keyakinan dan rasa aman itu. Saya masih tersinggung dan sakit hati karena perlakuan orang lain, dan saya masih terluka ketika tidak dihargai. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya saya merasa tidak aman dengan diri saya sendiri. Saya masih membutuhkan penerimaan (approval) dari orang lain. Dan ketika penerimaan itu tidak saya peroleh, maka saya merasa diri saya ini tidak berharga; dan hati saya menjadi terluka.

***

Setelah 30 tahun tinggal bersama keluargaNya sebagai tukang kayu, Tuhan Yesus memulai pelayananNya. Ia tidak memulai dengan melakukan mujizat atau berkhotbah. Ia juga tidak memulai dengan mengumpulkan orang untuk membuat organisasi. Tetapi, Ia memulai dengan pergi ke lokasi pembabtisan Yohanes, dan minta agar Yohanes membabtisNya. Inilah yang kemudian terjadi:
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:16)
Pada hari pembabtisan itu, Allah Bapa di surga dengan tegas menyatakan approval-Nya kepada Tuhan Yesus. Allah Bapa menyatakan dengan jelas bahwa Ia mengakui Tuhan Yesus sebagai AnakNya, bahwa Ia mengasihi Tuhan Yesus, dan bahwa Ia berkenan kepada hidup Tuhan Yesus. Dalam versi NIV, kata ”berkenan” diterjemahkan sebagai ”well pleased”. Berarti, Allah Bapa sangat senang dengan hidup Tuhan Yesus. Allah Bapa menyatakan bahwa Ia menerima dan menghargai Tuhan Yesus.

Do you know what really impress me from that story? Yang paling berkesan bagi saya adalah: pernyataan penerimaan dan penghargaan itu justru diberikan ketika Tuhan Yesus belum melakukan apa-apa bagi BapaNya. Ia belum mulai memberitakan Injil, Ia belum mulai berkhotbah, Ia belum menyembuhkan orang, Ia belum melakukan mujizat, Ia belum memenangkan orang berdosa, dan Ia belum mati di atas kayu salib!

Tuhan Yesus belum mulai melakukan misi yang ditetapkan oleh BapaNya. Namun, sebelum Ia melakukan itu semua, BapaNya telah menyatakan penerimaan dan penghargaanNya!

Saya pikir, itulah rahasianya! Tuhan Yesus tahu pasti, bahwa BapaNya menerima dan menghargaiNya. Tuhan Yesus yakin pasti, bahwa BapaNya telah memberikan approval atas hidupNya. Dan penerimaan serta penghargaan dari BapaNya itu sudah cukup bagi Tuhan Yesus! He don’t need any approval from anybody else! Seluruh dunia boleh membenciNya, semua orang boleh menolakNya. Tidak jadi soal, sebab BapaNya yang di sorga berkenan kepadaNya.

Betapa berbedanya cara Tuhan dan cara dunia. Di dunia, orang harus lebih dulu melakukan sesuatu yang baik supaya mendapat penerimaan dan penghargaan. Itulah sebabnya, orang jungkir balik setengah mati untuk berprestasi, untuk melakukan sesuatu yang berarti, untuk memiliki hal yang dipandang bernilai—supaya diterima dan dihargai orang lain.

Itulah yang menyebabkan orang membeli ijazah palsu: karena ia berpikir, orang akan kurang menghargainya kalau ia tidak punya titel akademis. Itulah yang membuat banyak remaja memakai obat bius: karena ia berpikir, bahwa tanpa itu ia tidak akan diterima oleh teman-temannya. Dan ketika ia sudah merasa melakukan banyak kebaikan, tetapi orang tidak menghargainya; ia menjadi terluka dan sakit hati! Itulah cara dunia.

Inilah cara Allah: ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Ia mengasihi saya tanpa syarat. Kristus mati bagi saya, bukan karena saya sudah hidup kudus, bukan pula karena saya sudah melakukan sesuatu untukNya. Ia telah mati bagi saya, justru ketika saya masih ada di dalam dosa. Oleh sebab itu, keselamatan dan penerimaan dari Tuhan tidak akan pernah bisa diperoleh dengan usaha saya sendiri, melainkan semata-mata karena anugerahNya saja (Efesus 2:8,9).

***

Betapa saya ingin memiliki hati yang sederhana seperti Wening. Selama orangtuanya menerima dan mengasihinya, Wening tidak peduli apa kata dunia tentangnya. Selama orangtuanya menghargainya, Wening tidak membutuhkan approval dari siapapun juga. Betapa saya ingin memiliki hati seperti Tuhan Yesus. Oleh karena BapaNya telah menyatakan penerimaan dan penghargaanNya, Tuhan Yesus tidak membutuhkan approval dari orang lain.

Inilah doa saya. Agar saya selalu ingat, bahwa Kristus sudah menerima saya-apa adanya saya: bukan karena kebaikan saya, namun justru ketika saya masih berdosa. Agar saya selalu ingat, bahwa apapun kata orang tentang saya, apapun pandangan orang mengenai saya-selama saya berada di posisi yang benar di hadapan Tuhan; saya tidak perlu terluka, saya tidak perlu merasa ditolak (rejected).

Karena saya tahu, di sana, di surga, di meja kerja Bapa saya, ada satu folder berisi file kehidupan saya; dan folder itu telah distempel dengan tulisan: APPROVED BY GOD!

Sunday, April 16, 2006

Suatu Petang di Tengah Jalan Menuju Emaus

Minggu malam, dua orang berjalan kaki menuju Emaus, sebuah kampung sekitar 7 mil (sekitar 11 km) di sebelah barat Yerusalem. Selama berjalan, kedua orang ini terus sibuk berbicara satu sama lain. Sementara mereka asyik bicara, Seseorang menyusul mereka dan turut berjalan di samping mereka. Tuhan Yesus berjalan bersama mereka, namun mata mereka tidak mengenaliNya.

Tuhan Yesus bertanya apa yang begitu asyik mereka perbincangkan. Dan kedua orang inipun menjelaskan bahwa mereka sedang membicarakan tentang Yesus, Nabi besar yang melakukan banyak mujizat, namun yang telah mati disalibkan tiga hari sebelumnya, dan ketika beberapa wanita pergi ke kuburNya pagi itu, mereka tidak menemukan tubuhNya (Lukas 24:13-24).

Sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran saya: Mengapa Tuhan Yesus memilih untuk menyusul kedua orang ini? Mengapa Ia datang mendekati mereka? Padahal ada begitu banyak orang yang bisa didatangi malam itu?

Salah satu jawaban yang muncul adalah: karena mereka sedang membicarakan Dia. Ketika orang membicarakan Tuhan Yesus, Ia tertarik untuk datang mendekat. Maleakhi 3:16 (NIV) mencatat:
Then those who feared the LORD talked with each other, and the LORD listened and heard. A scroll of rememberance was written in His presence concerning those who feared the LORD and honored His name.
Orang-orang yang takut akan Tuhan berbicara satu sama lain tentang Tuhan, dan Ia datang mendekat dan mendengarkan pembicaraan mereka. Tuhan sangat suka mendengarkan anak-anakNya membicarakan tentang Dia karena mereka takut akan Dia dan memuliakan namaNya.

Saya merasa ditegur dengan keras. Ketika saya bertemu dengan orang lain, apa yang saya bicarakan dengan mereka? Apa yang menjadi bahan perbincangan saya? Keluhan, gosip, pertengkaran, keburukan orang lain? Ataukah ataukah membicarakan Tuhan, kebaikanNya, kesetiaanNya, kuasaNya, bagaimana bisa mentaati dan mengasihi Dia?

Saya harus mengakui, bahwa tidak selalu saya bisa dengan spontan membicarakan Tuhan atau prinsip-prinsip firman Tuhan. Padahal, apa yang keluar dari mulut saya adalah pancaran dari isi hati saya (Matius 15:18).

Kalau hati saya tidak dipenuhi kecintaan kepada Tuhan dan rasa takut kepadaNya, mustahil saya bisa dengan ”natural” membicarakan Dia. Kalaupun saya mendiskusikan perkara-perkara tentang Tuhan, maka itu karena dipaksakan, oleh karena saya sedang berada di dalam lingkungan yang ”rohani”, dan saya tidak mau dinilai sebagai seseorang yang duniawi. Dan Tuhan tahu, bahwa saya sedang berpura-pura!

***

Kembali ke jalan menuju Emaus. Tuhan Yesus kemudian menjelaskan kepada mereka seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab Musa sampai semua kitab para nabi; bahwa Mesias harus menderita sebelum masuk ke dalam kemuliaanNya. Mendengar penjelasan itu, hati kedua orang ini menjadi berkobar-kobar karena pikiran mereka menjadi terbuka kepada kebenaran firman Tuhan.

Dan ketika mendekati Emaus, Tuhan Yesus hendak meneruskan perjalanan; namun kedua orang ini menahanNya. Mereka minta agar Dia tinggal bersama mereka. Dan permintaan itu bukanlah cuma basa-basi, sebab Alkitab mencatatnya demikian ”Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami...” (Lukas 24:29).

Dalam Alkitab NIV dikatakan: ”But they urged Him strongly” dan dalam Amplified Bible dicatat: “But they urged and insisted”. Mereka membujuk, memohon, mendesak dengan sangat agar Tuhan Yesus tinggal bersama mereka.

Dan Tuhan Yesus menuruti permintaan itu. Ia suka ketika orang membujuk dan mendesakNya untuk tinggal bersama mereka. Ia suka melihat hati yang sungguh-sungguh ingin bergaul denganNya. Bukankah Ia sendiri sangat ingin untuk bersekutu dengan kita?
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Wahyu 3:20).
Saya harus kembali mengakui, bahwa tidak setiap saat hati saya ini ingin bertemu dengan Tuhan. Bahkan ketika saya berada di dalam suatu acara atau kegiatan ibadah, hati saya tidak selalu sungguh-sungguh mencari Dia. Ada waktu-waktu di mana jam-jam ibadah hanyalah merupakan rutinitas saja.

Kalau mau sungguh-sungguh jujur, ada beberapa kesempatan di mana saya sangat enggan pergi ke gereja atau persekutuan. Kalau saja saya tidak harus melayani, kalau saja saya tidak takut dengan penilaian orang, kalau saja saya tidak peduli dengan apa kata orang—mungkin saya sudah tidak datang. Dan saya tahu, ketika sikap seperti itu ada di dalam hati saya, maka ibadah yang saya lakukan sebenarnya sia-sia saja di hadapan Tuhan:
Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan (Yesaya 29:13).
Saya yakin, bahwa Tuhan selalu hadir di dalam setiap ibadah. Sebab Ia sudah berjanji bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Ia akan ada bersama-sama mereka (Matius 18:20). Persoalannya adalah: berada di tempat yang sama tidak identik dengan mengalami persekutuan atau fellowship.

Ada beberapa kesempatan di mana saya berada di suatu tempat bersama orang lain, tetapi sama sekali tidak mengalami fellowship. Misalnya, sendirian pergi ke sebuah acara: banyak orang di sana, tapi sama sekali nggak ada yang dikenal—tidak ada keakraban, melainkan cuma basa-basi. Do you know how it feel? Terrible! Tersiksa, dan rasanya mau pulang saja!

Saya melihat bahwa hal yang sama kadang terjadi di dalam hidup ibadah saya: tidak mengalami keakraban dengan Tuhan, hanya melakukan ritual tanpa hati yang bersungguh-sungguh menyembah Tuhan. Ada beberapa kesempatan di tengah-tengah ibadah, saya harus berteriak di dalam hati kepada Tuhan agar membuat hati saya tertuju kepadaNya, merindukan dan mencari Dia.

***

Setiap Paskah, saya merenungkan tentang berita kebangkitan Tuhan Yesus; sebagai bukti kemenanganNya atas dosa dan maut. Namun Paskah tahun 2006 ini, saya justru diingatkan untuk menata hati saya.

Agar hati saya penuh dengan takut akan Tuhan dan kecintaan kepada Tuhan, sehingga ketika saya bicara atau mengobrol dengan orang lain, Tuhanlah yang menjadi pusat pembicaraan saya.

Agar saya sungguh-sungguh merindukan dan mencari Dia di dalam ibadah saya, supaya Dia tidak hanya ada bersama saya, namun saya benar-benar mengalami fellowship denganNya.

Friday, April 07, 2006

Kesaksian Pribadi

The First Contact

Saya dilahirkan 35 tahun yang lalu, anak ke-2 dari 5 bersaudara. Kami tinggal di Karanganyar, sebuah kota kabupaten 15 km dari kota Solo, Jawa Tengah. Keluarga kami bukan keluarga Kristen. Ketika saya berusia 6 tahun, saya dan kakak saya mulai diajak untuk pergi ke Sekolah Minggu, yang bertempat di sebuah SD di belakang rumah kami. Dari minggu ke minggu kami terus datang.

Orangtua saya sering mendengar nyanyian dari Sekolah Minggu itu, dan menjadi tertarik dengan Kekristenan. Kemudian, mereka mulai dibina oleh majelis Gereja Kristen Jawa (GKJ ) Karanganyar, dan memutuskan untuk mau dibabtis. Kami sekeluarga dibabtis pada hari yang sama. Hanya saja, saya sama sekali tidak tahu apa arti babtisan itu. Pokoknya asal ikut saja. Saya masih belum mengenal Tuhan.

Mulai Mencari Tuhan

Ketika saya duduk di kelas 2 SD, kami harus pindah ke kota Solo. Saya pindah ke sekolah yang baru. Kami kemudian mengikuti Sekolah Minggu yang diadakan oleh Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton--sebab ini adalah gereja yang paling dekat dari rumah, hanya 5-10 menit jalan kaki. Di Sekolah Minggu ini, rasa ingin tahu saya tentang Tuhan mulai timbul. Saya sangat suka mendengar cerita-cerita Alkitab.

Waktu saya kelas 4, saya mendapat hadiah uang karena meraih suatu kejuaraan. Saya minta ibu mengantar saya ke Toko Buku "Sion" untuk membeli sebuah Alkitab. My very first Bible. Saya mulai membacanya setiap hari. Saya suka cerita-cerita di dalamnya, terutama cerita-cerita peperangan. Saya melompati kitab-kitab yang sulit dan "membosankan". Saya juga suka membaca cerita tentang mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di dalam ke-4 Injil.

Tetapi, anehnya, yang paling saya sering saya baca adalah kitab Wahyu, terutama di bagian akhir zaman, yaitu ketika Tuhan menimpakan ke-7 tulah (bencana) ke atas bumi. Perasaan saya campur aduk tiap kali membaca bagian tersebut. Ada rasa ingin tahu, namun yang paling besar adalah rasa takut. Saya takut kalau harus mengalami semua bencana itu, saya takut bahwa saya tidak termasuk orang beriman sehingga harus dihukum, saya takut masuk neraka.

Selain itu, sejak saya SD, saya sangat takut kepada kematian. Saya takut mati. Dari SD sampai SMA, saya sering sulit sekali untuk tidur. Kadang sampai jam 2 atau jam 3 pagi baru bisa tidur--karena saya takut mati dan takut masuk neraka. Saya juga takut kepada setan. Kalau malam-malam harus disuruh keluar rumah atau kalau ke kamar mandi, saya akan nyanyi keras-keras untuk menutupi ketakutan saya.

Saya bukan anak "nakal", dalam arti, saya biasa-biasa saja. Nggak pernah berkelahi, tidak pernah dihukum di sekolah, tidak pernah melakukan kegiatan yang destructive. Bukankah, itu definisi "kenakalan"? Selama tidak melakukan hal-hal yang merugikan, maka saya dianggap sebagai anak baik-baik. Namun, saya tahu, bahwa sebenarnya saya bukan anak baik-baik. Begitu banyak kejahatan yang saya lakukan dengan tersembunyi. Mencuri uang ibu untuk menyewa/membeli komik atau jajan/nonton bioskop. Berbohong, menyimpan pikiran-pikiran yang kotor, dan semua kejahatan "rahasia" yang lain.

Di satu sisi, saya sangat suka kepada hal-hal rohani; tertarik kepada hal-hal rohani. Namun di sisi lain, saya terus-menerus melakukan dosa, dan tidak bisa berhenti darinya. Kondisi yang "mendua" ini menyiksa hati saya. Terus menggelisahkan saya. Dalam hati, saya tahu betul bahwa saya orang berdosa. Namun, saya tidak tahu bagaimana bisa lepas dari kondisi ini. Alkitab yang saya baca, khotbah yang saya dengar di Gereja--tidak ada satupun yang memberi penjelasan tentang apa yang harus saya lakukan.

Second Contact

Tahun 1986, saya masuk ke SMA Negeri 1, salah satu SMA favorit di kota Solo. Di kelas 1, saya mulai diperkenalkan dengan PSK (Persekutuan Siswa Kristen). Pada saat Penataran P4, pada waktu jam ibadah, ada kakak-kakak dari PSK yang menjelaskan berita Injil kepada kami.

Di akhir penjelasan itu, kami ditantang untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi. Waktu tantangan itu, saya melirik ke kanan dan ke kiri. Karena teman-teman saya mengangkat tangan, maka saya pun ikut-ikutan mengangkat tangan. Padahal saya tidak tahu sama sekali apa maksudnya. Saya pikir, kalau saya tidak angkat tangan, maka teman-teman saya akan menilai saya sebagai anak yang tidak "rohani".

Akibat dari tindakan mengangkat tangan itu, saya kemudian ditemui oleh salah seorang kakak kelas. Dia mengajak saya dan seorang teman yang lain untuk ketemu sepulang sekolah. Dalam pertemuan itu, saya ditanya lagi apakah saya sudah terima Tuhan Yesus. Karena malu dan takut, saya jawab saja "Sudah", walaupun sebenarnya saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan menerima Tuhan Yesus.

Saya lalu ditawari untuk ikut KPA (Kelompok Penyelidikan Alkitab). Kami ketemu seminggu sekali setiap pulang sekolah. Karena memang pada dasarnya saya suka hal-hal yang berbau rohani, saya ikut KPA itu. Saya rajin mengisi bahan,jago menghafal ayat, dan selalu datang di tiap pertemuan. Karena saya adalah anggota yang rajin, maka waktu naik ke kelas 2 saya mulai dilibatkan dalam acara PSK--main gitar untuk mengiringi pujian dan kadang menjadi pemimpin pujian.

Dari luar, hidup saya sepertinya ideal. Anak baik-baik, tidak nakal, rajin dalam kegiatan rohani, dan aktif melakukan pelayanan. Namun, sebenarnya hidup saya masih sama saja. Saya masih terus melakukan dosa-dosa "rahasia", saya masih terus takut dengan kematian, saya masih sulit tidur karena takut neraka. Semakin banyak pengetahuan Alkitab yang saya dapat, semakin takut dan putus asa hati saya, sebab saya tahu saya tidak bisa memenuhi standar Firman Tuhan, dan pasti saya akan dihukum oleh Tuhan karena dosa-dosa saya.

Ditangkap oleh Tuhan

Tahun 1988, saya duduk di kelas 2. Dalam sebuah acara PSK, mas Gunawan Sri Haryono kembali menjelaskan tentang Injil. Isinya sama persis dengan apa yang pernah saya dengar waktu di kelas 1, yaitu:

Semua manusia berdosa (Roma 3:23) dan hukuman dosa ialah maut (Roma 6:23), maka manusia berusaha untuk menghindari hukuman ini dan mendapat keselamatan, tetapi usaha itu sia-sia (Efesus 2:8,9).

Oleh karena manusia tidak bisa menyelamatkan diri, maka Allah yang bertindak mendatangi manusia. Karena kasihNya, Ia memberikan AnakNya yang tunggal (Yohanes 3:16). Untuk menggantikan manusia dalam menanggung hukuman dosa, Tuhan Yesus harus mati di atas kayu salib dan dikuburkan; namun pada hari ke-3 bangkit lagi untuk menyatakan kemenangan atas dosa (1 Petrus 3:18). Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan untuk kembali kepada Tuhan (Yohanes 14:6).

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (Yohanes 5:24)

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yohanes 1:12)

Walaupun saya sudah pernah berkali-kali mendengar berita Injil ini, namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya dengan jelas mengerti apa maksudnya. Seolah-olah tabir yang selama ini menutupi pengertian saya menjadi terbuka. Saya menjadi sadar bahwa memang saya orang berdosa yang membutuhkan Tuhan Yesus untuk menyelamatkan saya.

Malam itu Mas Gun memberikan tantangan: siapa yang mau menerima Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup menjadi Juru Selamat pribadi. Saya tidak mengangkat tangan, namun untuk pertama kalinya, saya berdoa di dalam hati demikian: "Tuhan Yesus, saya ini orang berdosa. Tolong selamatkanlah saya".

Cuma sependek itu doa saya. Namun saya menaikkannya dengan penuh kesadaran dan sepenuh hati saya. Dan saat itu juga, selesai saya berdoa, ada perasaan damai dan lega yang memenuhi hati saya. Dada saya rasanya sesak dengan kelegaan. Saya belum pernah merasakan kedamaian dan kelegaan seperti itu. Saya tahu, malam itu saya ditangkap oleh Tuhan, dan saya dilahirkan kembali menjadi anakNya.

Mulai Berjalan bersama Tuhan

Pulang dari PSK malam itu, saya merasa sangat lega. Malam itu saya tidur nyenyak. Sejak saat itu saya tidak pernah takut kepada setan atau kegelapan lagi. Saya bisa berjalan sendirian di tempat segelap apapun, dan tetap merasa damai. Saya tidak pernah punya masalah sulit tidur, dan yang paling penting, saya tidak lagi takut mati. Sebab saya tahu, ketika saya mati, saya tidak akan pergi ke neraka, tetapi saya akan disambut oleh Tuhan Yesus di dalam KerajaanNya.

Sejak hari itu, saya makin haus untuk mengerti firman Tuhan. Tahun 1989, saya mulai kuliah, dan saya mulai dilayani Mas Gun di dalam kelompoknya. Saya terus belajar dari beliau dalam segala hal: ibadah, ketaatan, keuangan, pelayanan, watak, pernikahan, membina anak, karir dan pekerjaan--semua bagian hidup saya dibangun Tuhan melalui pertolongan mas Gun. Beliau benar-benar bapak rohani saya: yang menolong saya untuk lahir baru, dan yang berperan paling besar dalam memelihara dan membangun hidup saya. Satu demi satu, dosa-dosa yang sudah mendarah daging itu mulai lepas dari hidup saya.

Saya terus mengikuti KPA seminggu sekali (kadang lebih) bersama mas Gun selama 11 tahun, sebab Maret 2000 saya harus pergi ke Newcastle untuk sekolah lagi. Sampai sekarangpun, mas Gun masih terus menolong saya. Dan saya tidak sabar menunggu waktu untuk pulang ke Solo, untuk ketemu dan belajar dan melayani bersama mas Gun lagi.

Saya belum sempurna. Dosa-dosa masa lalu saya masih sesekali muncul. Saya masih terus berjuang mengatasi watak saya yang buruk. Sampai sekarangpun masih ada bagian-bagian hidup yang terus membuat saya sedih dan menangis. Puji Tuhan, sebab Ia sangat mengasihi dan sabar kepada saya. Sekalipun saya bandel dan suka melawan, Ia tidak pernah putus asa untuk menolong saya. KesetiaanNya kepada saya adalah kekuatan yang membuat saya tidak menyerah di dalam hidup saya.

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:16)
Sri Hastjarjo

Tuesday, April 04, 2006

Sekaleng Kelereng

Siapa yang belum tahu kelereng atau gundu? Hampir semua orang (terutama pria) pasti kenal dengan bola kaca dengan motif warna-warni ini. Entah berapa macam jenis permainan yang terinspirasi oleh benda kecil ini. Saya bukan seorang pemain kelereng yang terampil, tetapi ada beberapa teman saya di SD yang luar biasa hebat kalau sudah memegang kelereng.

Ada satu orang yang punya satu kaleng biskuit Regal penuh dengan kelereng. Tiap kali kami main ke rumahnya, dia akan selalu memamerkan "harta kekayaannya". Dan kami pun dengan takjub memelototi koleksi kelereng itu. Ketika kami sudah berkerumun, teman saya ini akan menggoyang-goyangkan kaleng biskuit itu, sehingga kelereng-kelereng di dalamnya berlompatan, saling bersinggungan, menimbulkan suara sentuhan kaca yang begitu melodis bagi telinga kami--anak-anak SD yang masih suka ingusan.

***

Hari ini, saya teringat kepada sekaleng kelereng itu. Bayangan ini yang muncul di dalam pikiran saya: puluhan kelereng, masing-masing punya motif warna yang berbeda, mereka berada di tempat yang sama, saling bersinggungan, saling bersentuhan, namun tidak pernah akan bisa melebur menjadi satu.

Pikiran itu membawa saya kepada satu bagian surat Rasul Paulus kepada salah satu jemaat yang dilayaninya (Filipi 2:1-4).

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Mestinya, Paulus tidak sembarangan atau berbasa-basi di dalam menulis surat penggembalaannya. Kalau ia menulis surat, maka surat itu pasti punya tujuan. Dan karena surat Filipi ini berisi dorongan atau perintah untuk membangun kesatuan, bisa disimpulkan bahwa saat itu jemaat Filipi memang sedang memiliki persoalan di bidang itu. Mengapa ada persoalan ketidaksatuan di dalam jemaat Filipi?

Kisah Para Rasul 16:12-40 mencatat pelayanan Paulus ketika memulai jemaat di kota Filipi. Dicatat di sana, jemaat Filipi diawali dengan pertobatan Lidia (Kis. 16:14-15), seorang Yahudi yang berdagang kain ungu dan keluarganya; kemudian ditambah dengan seorang mantan budak perempuan yang punya roh peramal (Kis 16:16-18), dan disusul dengan kepala penjara Romawi dan keluarganya (Kis. 16:27-34).

Dari catatan itu, dapat dilihat bahwa jemaat Filipi berisi orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada perbedaan bangsa, status sosial, serta pekerjaan. Perbedaan-perbedaan ini memang bisa, dan ternyata memang telah, menjadi salah satu penyebab konflik di dalam jemaat. Namun, bagi Paulus, bukan perbedaan-perbedaan itu yang menjadi penyebab utama. Paulus melihat, kunci persoalannya ada pada sikap hati masing-masing anggota jemaat.

Dalam Filipi 2:1-2, Paulus mengatakan apa yang diinginkannya supaya terjadi di dalam jemaat, yaitu: kesatuan hati, pikiran, kasih, jiwa, dan tujuan. Kemudian di ayat 3-4, Paulus menyebutkan bagaimana cara mencapai kesatuan tersebut, yaitu: tidak mencari kepentingan sendiri, tidak mencari pujian yang sia-sia, bersikap rendah hati, memandang orang lain lebih utama, dan tidak bersikap egois, melainkan mau memperhatikan kepentingan orang lain.

Dalam mengatasi ketidaksatuan jemaat, Paulus tidak menyarankan supaya jemaat membuat program atau kegiatan yang baru. Ia juga tidak merekomendasikan agar dilakukan perombakan (reshuffle) susunan pengurus jemaat. Paulus menasihatkan jemaat untuk melakukan perombakan sikap hati. Dari sikap hati yang ambisius, arogan, dan egois menjadi hati yang penuh dengan kerendahan hati, memandang orang lain lebih utama, dan memikirkan kepentingan orang lain.

***

Orang-orang dengan berbagai latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda, dikumpulkan dalam satu tempat, menggabungkan diri ke dalam sebuah organisasi, dan kemudian melakukan kegiatan bersama, tidak menjamin akan menciptakan kesatuan; sebab kesatuan yang sesungguhnya hanya bisa dimulai dari sikap hati yang benar: yang tidak berambisi mengejar kepentingan sendiri, namun yang rendah hati saling melayani.

Apabila sikap hati seperti itu tidak ada, maka yang tinggal hanyalah sekumpulan orang yang ketemu di satu tempat, berinteraksi, saling bicara, melakukan aktivitas sama-sama, namun tidak pernah bisa mencapai kesatuan hati-jiwa-pikiran-tujuan. Seperti puluhan kelereng yang saling bersinggungan dan bersentuhan di dalam kaleng biskuit.