Wednesday, May 10, 2006

Tentang Perasaan

Hari ini, perasaan saya campur aduk. Senang bercampur sedih, bersyukur bercampur kecewa, excited bercampur distressed. Padahal, itu semua saya rasakan pada saat menghadapi sebuah kenyataan yang sama. Mengapa bisa begitu? Satu peristiwa, satu fakta, satu keadaan; namun saya meresponinya dengan perasaan yang bermacam-macam dan saling bertentangan?

Pikiran saya mengatakan bahwa kenyataan itu benar adanya. Nalar saya mengetahui bahwa memang keadaan itulah yang sebaiknya dan seharusnya terjadi. Saya menginginkan supaya hal itu terjadi. Saya mendoakan supaya keadaan itu terwujud. Namun, ketika keinginan dan doa saya itu benar-benar menjadi kenyataan, perasaan saya tidak bisa 100% sinkron dengan pikiran saya. Sebagian perasaan saya justru sulit menerima, dan menjadi terluka. Kok bisa?

Saya tidak ingin berada di dalam situasi seperti ini. Yang saya inginkan adalah: saya bisa menerima keadaan yang baik itu dengan seluruh totalitas jiwa saya--pikiran, kehendak, dan perasaan saya. Namun, seperti yang sering kali terjadi di dalam hidup saya, perasaan sayalah yang selalu bermasalah. Perasaan saya, walau tidak semuanya, berada di dalam posisi yang berseberangan dengan pikiran dan kehendak saya.

***

Saya sadar, bahwa saya tidak bisa hidup tanpa perasaan. Tuhan yang mendesain saya sehingga saya memiliki perasaan. Berarti, perasaan itu baik adanya. Seperti semua yang diciptakan Tuhan. Tanpa perasaan, saya akan hidup seperti robot atau komputer: tahu apa yang harus dilakukan, mau untuk melakukannya, namun melakukannya tanpa emosi apapun.

Sebagai Manusia Sejati, Tuhan Yesus juga memiliki perasaan. Ke-4 Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengekspresikan perasaanNya: belas kasihan kepada orang banyak, terharu sampai menangis ketika melayat Lazarus, bergembira saat murid-murid kembali dari latihan pelayanan, marah melihat Bait Allah menjadi tempat berdagang, dan gentar serta tertekan di Taman Getsemani.

Dari apa yang saya baca tentang Tuhan Yesus, ketiga aspek jiwaNya (pikiran, kehendak, dan perasaan) selalu sinkron, integrated, dan tidak terbagi-bagi. Hanya satu kali saja Dia mengalami konflik internal, di mana perasaanNya bertentangan dengan pikiran dan kehendakNya. Dan kesempatan yang satu kali itu merupakan pergumulan terbesar di dalam hidupNya sebagai Manusia.

***

Taman Getsemani. Tuhan Yesus sudah tahu, bahwa Allah Bapa menghendaki Ia menebus dosa manusia dengan jalan kematian. Tuhan Yesus merasa gentar, tertekan, sedih--seperti mau mati rasanya (Matius 26:38). PikiranNya tahu apa yang harus dikerjakan, perasaanNya sulit menerima; sehingga terjadi konflik internal di dalam jiwaNya.
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:38)
Can you see His struggle? Di satu sisi, Ia tahu apa yang dikehendaki BapaNya, namun Ia berdoa supaya kalau boleh Ia tidak perlu mengalami kehendak Bapa itu. Kalau mungkin, biarlah BapaNya memakai cara lain untuk menggenapi rencanaNya. PerasaanNya sulit untuk menerima dengan total kehendak BapaNya, maka Ia menawar: "Is it possible to do it in another way?"

Tuhan Yesus jujur dengan perasaanNya. Ia tidak menutup-nutupi keberatanNya. Ia tidak menunjukkan sikap "alim" dan "saleh" yang pura-pura. Ketika Ia mengalami pergumulan, Ia mengatakannya dengan terus-terang. Betapa berbeda dengan saya: saya bisa tampil kooperatif, tersenyum mengiyakan; namun sebenarnya perasaan saya memberontak.

Tuhan Yesus tidak berhenti kepada mengekspresikan perasaanNya. Ia dengan sadar memilih untuk tidak mengikuti perasaan itu, tetapi menundukkan diri kepada kehendak BapaNya. Ia tidak menyembunyikan perasaanNya, namun Ia tidak membiarkan perasaan itu yang menentukan tindakanNya. Ia memilih untuk tunduk, apapun perasaan yang dimilikiNya.

***

Yang membuat saya heran adalah: Ia sampai harus 3 kali menaikkan doa yang sama. Mengapa? Bukankah Ia sudah memutuskan untuk tunduk kepada kehendak Bapa? Mengapa Ia masih perlu mengulangi doa itu?

Ini yang saya pikirkan. Saya bisa salah menafsirkan. Namun, inilah yang saya kira sebagai jawabannya. Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa perintah terbesar adalah: mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan (Markus 12:30). Ia tahu, ketaatan yang diingini Allah adalah ketaatan yang melibatkan seluruh totalitas hidup orang. Menyeluruh, tidak parsial; melibatkan seluruh pikiran, kehendak, dan perasaan.

Allah ingin, kalau seseorang itu taat, ia tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan dan mau melakukannya, namun juga melakukan ketaatan itu dengan perasaan yang rela dan senang hati. Itulah sebabnya, Allah tidak berkenan dengan bangsa Israel: mereka tahu harus pergi ke Tanah Perjanjian, mereka mau berjalan, namun mereka melakukannya tanpa perasaan yang rela--bersungut-sungut terus selama perjalanan.

Pernahkan kita melihat seseorang yang melakukan sesuatu tanpa kerelaan dan kesukaan? Benar, dia tahu apa yang harus dikerjakannya. Benar, dia memang mengerjakannya. Namun, dia mengerjakannya dengan wajah muram dan tanpa kegembiraan. Bukankah kita sebel melihat orang itu? Kita biasanya akan berpikir: mendingan tidak usah dikerjakan sekalian, daripada dikerjakan tapi tanpa sukacita.

Kembali kepada pergumulan Tuhan Yesus di Getsemani. Saya pikir, Tuhan Yesus perlu berdoa sampai 3 kali, oleh karena Ia mau perasaanNya berubah. Ia ingin, ketika Ia melakukan kehendak BapaNya, Ia melakukannya tanpa merasa terpaksa atau berat hati. Ia ingin, agar ketaatanNya adalah ketaatan yang total.

Ini yang saya yakini: ketika Tuhan Yesus selesai berdoa untuk yang ke-3 kalinya, perasaanNya sudah tidak lagi sama. Saya yakin, pergumulanNya telah selesai. Tidak ada lagi resistensi, tidak ada lagi keberatan. Ia sekarang siap untuk melakukan kehendak BapaNya dengan segenap pikiran, kehendak, dan perasaanNya.

***

Saya sadar, perasaan saya belum bisa sepenuhnya berdamai dengan apa yang harus saya kerjakan. Namun, saya ingin belajar dari Tuhan Yesus: tetap memilih untuk mentaati kehendak Tuhan yang sudah saya ketahui, sekalipun perasaan saya bertentangan. Saya mengerti, apabila saya tekun dengan pilihan itu, perasaan saya akan mengikuti.

Saya sadar, bahwa proses penyatuan pikiran, kehendak, dan perasaan itu butuh waktu. Tuhan Yesus saja harus berdoa sampai 3 kali. Itu berarti, saya juga akan mengalami proses yang sama. Yang jelas, saya tidak boleh berhenti memilih untuk taat dan menerima kehendak Tuhan.

Kalau saya menuruti perasaan yang bertentangan itu, maka saya tidak akan pernah jadi mentaati Tuhan. Namun kalau saya tekun dengan pilihan yang benar, maka perasaan saya akan fall in line. Dan, saat itulah saya akan merdeka. Merdeka untuk mentaati Dia!

The Impossible Life

Satu bulan terakhir, saya berulang-ulang memikirkan kalimat ini: “Christian life is not a difficult life, but it is an impossible life!” Tidak, saya tidak salah tulis! Hidup Kristen itu bukannya sulit untuk dijalani, melainkan memang MUSTAHIL untuk dijalani! Tidak ada orang yang akan bisa menjalani hidup Kristen, sebab standard hidup yang dituntut oleh Tuhan begitu tinggi!

Ketika saya melihat hidup saya selama 35 tahun ini, saya harus mengakui betapa jauhnya saya dari standar yang diinginkan oleh Tuhan. Padahal, saya mengaku sebagai seorang Kristen.

Matius 5 mencatat penjelasan Tuhan Yesus mengenai cara melakukan Hukum Tuhan. Tiap kali membaca bagian ini, saya menjadi stress melihat hidup saya sendiri. Di sana terlihat betapa tingginya ukuran yang dituntut oleh Tuhan:
  • ketaatan saya harus melampaui ketaatan orang Farisi (ayat 20)
  • memaki orang lain sama dosanya dengan melakukan pembunuhan (ayat ayat 21,22)
  • perzinahan telah terjadi pada saat saya baru mulai memikirkannya (ayat 27,28)
  • saya dituntut untuk memiliki kejujuran yang mutlak (ayat 37)
  • saya tidak boleh membalas, namun harus mengasihi musuh yang menganiaya (ayat 43,44), dan seterusnya
Kemudian, Tuhan Yesus menutup penjelasanNya itu dengan satu kesimpulan: ”Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:4).

Perhatikan kalimat itu. Kesempurnaan hidup bukanlah merupakan pilihan, tetapi suatu keharusan! Dan ukuran kesempurnaan yang harus dicapai adalah kesempurnaan Allah Bapa sendiri! Siapa yang akan bisa memenuhi standard ini? Siapa yang akan mampu mencapainya?

***

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Mungkinkah Tuhan memerintahkan agar saya melakukan sesuatu yang mustahil untuk saya lakukan? Bukankah dalam Roma 3:23, Tuhan sendiri yang berkata bahwa ”Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”?

Kalau Ia sudah tahu bahwa saya tidak akan bisa memenuhi standard-Nya, namun Ia masih tetap menuntut saya untuk mencapai standard itu; bukankah itu berarti bahwa Ia adalah Tuhan yang kejam dan sewenang-wenang? Itu sama seperti seorang bapak yang menyuruh anaknya untuk terbang dari atas tebing, padahal ia sudah tahu bahwa anaknya tidak punya sayap.

Firman Tuhan dipenuhi dengan kesaksian bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi saya. Begitu besar kasih-Nya, sampai Ia memberikan AnakNya yang Tunggal untuk mati bagi saya (Yohanes 3:16). Mazmur mencatat sifat TUHAN yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Mazmur 103:8). Jadi, Dia bukanlah Allah yang kejam, melainkan Allah yang penuh belas kasihan kepada anak-anakNya.

***

Kalau Dia bukan Allah yang kejam, lalu mengapa Ia memberikan perintah yang mustahil untuk dijalani itu? Mungkinkah Tuhan hanya ”berbasa-basi” ketika menuntut agar hidup saya sempurna?

Jangan-jangan, Ia sebenarnya tidak memerintahkan saya agar 100% taat, namun hanya dalam rangka untuk memberi motivasi kepada saya agar hidup sungguh-sungguh kepadaNya. Sama seperti seorang boss yang memberikan sedikit ”kata-kata keras” sebagai shock therapy kepada anak buahnya agar tidak sembarangan dalam bekerja.

Tetapi, Alkitab tidak pernah menggambarkan Tuhan sebagai Pribadi yang suka berbasa-basi. Kalau Ia mengatakan sesuatu, memang itulah yang diinginkanNya. Kalau Tuhan berkata ”Ya” maka itu berarti ”Ya”, dan kalau Ia berkata ”Tidak”, maka itu artinya ”Tidak” (Matius 5:37).

Ia tidak pernah menarik kata-kataNya, Ia tidak pernah mengingkari apa yang sudah diucapkanNya sendiri: ”Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta; bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19).

Jadi, kalau Ia mengharuskan agar saya hidup sempurna, maka itu berarti memang Ia sungguh-sungguh menuntut saya untuk sempurna.

***

Di satu sisi, Tuhan menuntut agar saya hidup sempurna. Di sisi lain, saya tahu bahwa saya takkan pernah sanggup memenuhi tuntutan itu. 18 tahun saya mengenal Tuhan, dan berjuang setengah mati untuk hidup sesuai Firman Tuhan. Namun tetap saja saya tidak pernah bisa mencapai standard itu! Lalu saya harus bagaimana lagi?
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik ... Sebab bukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat ... Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:18,19,24)
Perjalanan hidup Kristen saya itu seperti seorang yang melangkah mendekati sebuah cermin. Cermin itu adalah Firman Tuhan. Ketika saya masih berdiri jauh dari cermin itu, maka tubuh saya terlihat sempurna. Namun, semakin saya mendekati cermin itu, semakin jelas terlihat cacat dan kekurangan di dalam tubuh saya.

Semakin lama saya mengenal Tuhan, semakin dalam saya mempelajari FirmanNya, semakin banyak yang saya ketahui tentang kebenaranNya; semakin sedih saya melihat hidup saya sendiri. Tahun demi tahun berlalu di dalam perjalanan saya bersama Tuhan. Saya justru semakin banyak menemukan kelemahan, kegagalan, keburukan, dan cacat di dalam karakter saya.

***

Christian life is not a difficult life, but it is an impossible life! Saya 100% menyadari hal itu. Saya adalah saksi hidup bagaimana mustahilnya standar Allah itu dicapai. Tetapi, apakah itu berarti saya harus menyerah?

Saya tidak bisa menyerah. Karena Tuhan memerintahkan saya agar mencapai kehidupan seperti yang diinginiNya. Kalau saya menyerah, berarti saya memutuskan untuk tidak hidup sesuai keinginanNya.

Saya tidak boleh menyerah. Namun, bagaimana caranya?

Tuesday, May 09, 2006

Sebuah SMS di Pagi Buta

Suatu pagi, jam 5.30, seorang teman yang tinggal di Blacktown mengirimi saya sms. Dia meminta agar saya menyalakan TV Channel Ten. Saya langsung tahu apa yang dia maksudkan. Saya dan teman ini memang sedang menunggu-nunggu acara tersebut sejak sebulan yang lalu. Waktu saya nyalakan TV, saya menyaksikan rekaman KKR Rev. Benny Hinn di Jakarta.

Saya melihat beberapa orang maju ke depan untuk bersaksi betapa Tuhan sudah menjamah dan menyembuhkan penyakit mereka. Dan kemudian, Rev. Benny Hinn mengatakan: ”Mujizat terbesar bukanlah mujizat fisik. Mujizat terbesar adalah mujizat rohani!” Ia menantang yang hadir untuk berdoa menerima Tuhan Yesus saat itu juga.

Saya melihat tangan-tangan terangkat ke langit. Saya melihat mulut-mulut bergerak mengucapkan doa mengundang Tuhan Yesus. Saya menyaksikan begitu banyak jiwa terbuka untuk mengalami mujizat rohani itu. Tangan-tangan, mulut-mulut, jiwa-jiwa saudara sebangsa saya. Pagi itu, saya menangis melihat itu semua. Puji Tuhan!

***

Setelah acara TV itu selesai, sebuah pemikiran muncul di dalam hati saya. Mengapa teman saya ini ”berani” mengirim sms di pagi buta? Padahal, isi sms-nya bukanlah sesuatu yang bersifat emergency. Sejujurnya, tidak banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Ketika saya mencoba menghitung-hitung; selain Rut—istri saya, ternyata tidak lebih dari 5 orang yang bisa dan pernah melakukannya.

Oh, saya tidak akan pernah menolak siapapun yang menelepon atau mendatangi saya kapanpun juga. Sejak bertahun-tahun yang lalu, saya memutuskan di hadapan Tuhan untuk membuka hidup saya 24 jam bagi orang lain. Selama tidak ada komitmen lain yang harus saya lakukan, saya akan available. Namun, pada kenyataannya, walaupun saya punya banyak sekali kenalan, hanya segelintir teman yang tidak merasa ”sungkan” untuk melakukannya.

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang ”Friendship” yang dikirim oleh seorang teman. Di sana dituliskan, saya bisa memiliki banyak sekali kenalan, saya juga bisa punya banyak relasi yang memiliki interest yang sama. Namun saya hanya akan bisa memiliki sedikit teman dekat.

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa dia sangat tertarik dengan fenomena ”platonic relationship”, seperti kedekatan Mulder dan Scully dalam serial The X-Files. Saya setuju dengannya, walaupun hanya fiksi, namun itu adalah contoh sebuah persahabatan yang dalam. And you cannot have that kind of relationship with many people.

Kalau mau jujur, berapa banyak sahabat dekat yang kita punya? Orang yang bisa nyaman untuk bicara tentang apapun juga. Orang yang enak untuk diajak ”mengata-ngatai” seluruh dunia. Orang yang tidak pernah sungkan atau berbasa-basi. Orang yang tidak pernah hitung-hitungan siapa yang mentraktir siapa.

Orang yang melakukan kebaikan kepada kita bukan sebagai balas jasa, tetapi karena memang ingin melakukannya. Orang yang berbuat sesuatu bagi kita bukan untuk membangun image, tetapi semata-mata karena suka untuk mengerjakannya.

Saya sering bilang kepada teman-teman dekat saya: sahabat adalah orang yang kepadanya kita tidak pernah merasa berhutang; dan orang yang kepadanya kita tidak pernah merasa menghutangi. Saya jadi ingat kata-kata seseorang di Solo: ”Sahabat itu tidak pernah saling menghutangi, mereka saling memberi. Mereka bisa saling meminjam, tetapi mereka tidak pernah berhutang”.

***

Dalam artikel ”Friendship” yang saya terima, dituliskan bahwa esensi teman sejati adalah: intimacy. May I suggest another thing? Berdasar pengalaman hidup saya selama ini, fondasi utama dari persahabatan sejati adalah: kepercayaan. Trust. Menurut saya, keintiman tidak akan pernah terbangun tanpa kepercayaan. You will never be intimate with somebody you do not trust!

Ambillah contoh teman saya yang di Blacktown tadi. Saya memang pernah mengatakan kepadanya untuk menghubungi saya kapan saja. Tetapi, dia tidak akan pernah berani untuk mengontak saya pagi-pagi buta atau di tengah malam, kalau dia tidak percaya kepada kata-kata saya. Selama ia memandang bahwa saya hanya berbasa-basi, dia tidak akan pernah menggunakan kesempatan untuk menghubungi saya. Ia berani untuk melakukannya, karena dia percaya bahwa saya tidak akan tersinggung, saya tidak akan terganggu, dan saya tidak akan menolak.

Saya punya seorang kenalan. Saya sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Dia seorang yang sangat periang, luwes, dan friendly. Manis kata-katanya, berbunga-bunga kalimatnya; pandai memikat dan menyenangkan hati orang lain. Kepada siapapun, dia selalu bilang: ”Si A itu teman dekat saya. Si B itu sahabat baik saya.” But, to tell you the truth, saya tidak yakin bahwa dia punya teman sejati, selain istrinya. I don’t think he has many people that really trust him.

***

Inilah doa saya. Agar Tuhan membangun saya menjadi orang yang trustworthy. Supaya orang lain mempercayai saya, supaya mereka melihat kesungguhan hati saya. Sehingga mereka berani mengambil resiko untuk memulai persahabatan dengan saya.

Saya berdoa supaya saya diberi hati yang setia, yang loyal kepada teman-teman yang telah saya miliki. Sehingga persahabatan yang sudah susah-payah terbangun tidak mudah runtuh, dan supaya saya tidak perlu kehilangan teman.

Saya tahu, pada akhirnya, yang paling berharga adalah jiwa manusia. Sekalipun saya memiliki semua harta di bumi, walaupun saya menggapai semua gelar akademik, seandainya saya menempati semua posisi tertinggi; kalau saya tidak punya sahabat—maka saya adalah orang termiskin dan paling kesepian di dunia.

For you that are my true friends: “Thank you. Your friendship has made me a very rich man!”

Lessons From the Beaconfield Mine

Jam 5 pagi. Saya sedang minum kopi panas untuk mengusir rasa kantuk, sambil menonton acara khotbah di televisi. Saya menyukai pembicara yang satu ini. Saya tidak selalu setuju atau menerima pengajarannya, namun saya kagum kepada kemampuannya di dalam berkomunikasi. He is a very good communicator.

Sementara acara itu berlangsung, beberapa kali terjadi interupsi. Acara itu dipotong untuk menayangkan siaran langsung pembebasan 2 pekerja tambang yang sudah 2 minggu terperangkap di dalam sebuah tambang di Beaconfield, Tasmania.

Do you know how I responded? Mula-mula, biasa saja. Sebagai pengajar ilmu jurnalistik, saya tahu apa itu ”berita” dan apa yang harus dilakukan seorang wartawan: menyiarkannya sesegera mungkin. Namun, setelah interupsi itu berlangsung beberapa kali, dan kemudian acara khotbah itu dihentikan sama sekali; saya mulai merasa jengkel.

***

Mengapa saya menjadi jengkel? Satu-satunya alasan kejengkelan saya adalah: saya tidak bisa menonton acara yang saya sukai, gara-gara stasiun tv itu memilih untuk memberitakan usaha pembebasan 2 jiwa manusia yang sudah terperangkap selama 2 minggu di dalam tambang!

Oh, betapa jahat dan egoisnya hati saya! Saya tidak peduli ada 2 orang yang terjebak selama 14 hari di dalam gelapnya tambang. Saya tidak merasa iba kepada keluarga mereka yang sport jantung selama ini. Saya tidak memandang nasib mereka sebagai sesuatu yang penting. They are not important to me. The most important thing for me is my tv programme and my happiness. Me, my, mine! What a selfish heart I have!

Saya jadi mempertanyakan semua tindakan saya selama ini. Apakah saya benar-benar mengasihi orang lain atau memperhatikan kepentingan mereka? Apakah saya benar-benar melayani mereka? Ataukah, sebenarnya saya melakukannya karena saya memperoleh keuntungan—materi atau emosi? Benarkah hati saya murni tanpa selfish motivation sama sekali?

***

Sering kita berkata: ”Orang itu kelihatannya kasar, namun sebenarnya hatinya baik kok.” Atau, ketika kita memberikan alasan bagi sikap dan tindakan kita: ”Maksud dan niat di dalam hatiku baik, kok.” Pada saat itulah kita sedang dikelabuhi mentah-mentah. Because, heart is the worst part of a human being!

Saya teringat kepada Petrus. Di malam penangkapan Tuhan Yesus, ia dan ke-11 rasul yang lain diperingatkan, bahwa malam itu iman mereka akan goyah. Secara khusus, Tuhan Yesus memberitahu Petrus: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22:31-32).

Do you know what Peter said? Petrus dengan bersemangat berkata bahwa, semua orang boleh goyah imannya, namun dia tidak akan meninggalkan Tuhan Yesus, walau sampai harus dipenjara dan mati sekalipun. Tuhan Yesus kemudian menubuatkan bahwa sebelum ayam berkokok, Petrus akan menyangkal-Nya 3 kali. Sekali lagi, Petrus menolak mentah-mentah prediksi itu. “I will not betray You!” katanya.

Dan kita tahu apa yang kemudian terjadi. Sebelum ayam jantan berkokok, Petrus menyangkali Tuhan Yesus 3 kali. Bahkan, pada penyangkalannya yang terakhir, Petrus sampai bersumpah-sumpah bahwa ia tidak mengenal Tuhan Yesus. Orang yang beberapa jam lalu berkata siap mati untuk Tuhan, sekarang mati-matian menyangkal Tuhan di depan seorang hamba perempuan!

***

Banyak orang mengatakan bahwa persoalan Petrus adalah persoalan: ketidaktulusan (insincerity). Tetapi, saya pikir bukan itu masalahnya. Saya yakin, Petrus sangat tulus dan bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. He really meant it. Tidak ada niat untuk membohongi Tuhan Yesus. Tidak ada rencana untuk mengkhianati Tuhan Yesus.

Saya pikir, persoalan Petrus adalah: ketidaktahuan (ignorance). Ia tidak tahu seperti apa hatinya. He did not know what he was capable of. Ia tidak tahu seberapa parah sebenarnya dia bisa jatuh. Dia merasa kuat, dia merasa tidak akan bisa melakukan suatu kesalahan tertentu.

Bukankah itu yang juga sering kita pikirkan? Kita sadar bahwa kita memiliki beberapa kelemahan, dan kita mengakui kelemahan-kelemahan itu. Kita selalu berusaha untuk berhati-hati dan berawas-awas di bidang-bidang itu. Namun, ada beberapa bidang yang lain di mana kita merasa kuat dan ”aman”, sehingga bisa berkata: ”Saya nggak seperti itu, kok.”

Kalau saya boleh berterus terang, saya berani memastikan bahwa di antara ke-10 Hukum Taurat, ada 4 hukum yang kita semua yakin bahwa kita tidak akan melakukannya: memiliki allah yang lain, membuat dan menyembah berhala, membunuh, dan berzina. Saya pikir, sebagian terbesar dari kita berani untuk mengatakan: “Saya tidak akan melakukan dosa-dosa itu.”

Keyakinan seperti itu sangat ”legitimate” dan meyakinkan. Kita tidak sedang berpura-pura; kita tulus dan bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Karena mungkin selama ini kita tidak melakukan dosa-dosa itu. Namun, apakah kita bisa menjamin bahwa kita tidak akan pernah melakukannya? Seorang teman pernah berkata: ”Never say never!”
Hati manusia tak dapat diduga, paling licik dari segala-galanya dan terlalu parah penyakitnya (Yeremia 17:9).
***

Sekarang jam 6.18. Saya menuliskan kalimat ini tepat ketika kedua pekerja tambang itu keluar dari mulut tambang, berpelukan dengan keluarganya, dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Setelah saya mengakui ke-egoisan saya, saya jadi bisa menonton siaran langsung pembebasan itu. Saya tidak lagi merasa jengkel. Toh, besok pagi saya masih bisa menonton acara khotbah itu; tetapi siaran langsung ini tidak akan terjadi lagi.

Pagi ini, saya ditegur dalam hal ke-egoisan hati saya. Nanti siang, nanti malam, atau besok pagi, saya tidak tahu teguran apa lagi yang akan saya dengar. And that’s good for me. Itu menunjukkan bahwa Tuhan care kepada saya, itu membuktikan bahwa Ia menganggap saya sebagai anakNya. Ia ingin agar saya tidak merasa kuat dan “aman”, tetapi terus-menerus waspada dengan potensi kejahatan di dalam hati saya.
Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1 Korintus 10:12)
Setelah menulis tentang Allah yang Mahatahu dalam Mazmur 139, Daud menutup renungannya dengan doa ini: ”Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (ayat 23-24). I think, I will make David’s petition my daily prayer.

The Painful Song

Betapa hatiku kosong dan kering. Batinku menjerit kepada Tuhan. Aku ingin bertemu Tuhan, aku ingin mengalami jamahan tanganNya yang memberi kehidupan. Namun, aku tidak bisa mengalaminya. Mengapa aku tidak bisa mendapat kelepasan? Kapan aku boleh datang lagi kepadaNya?

Siang dan malam aku menangis. Air mata kesedihan dan kepahitan sepanjang hari. Rasa-rasanya tidak ada yang baik yang datang di dalam hidupku. Hanya duka dan sakit hati yang kualami.

Dan orang-orang di sekelilingku sama sekali tidak membantu. Justru mereka merendahkan dan mengejekku: "Di mana Allahmu? Di mana Tuhan yang kau bangga-banggakan itu? Mana bukti kehidupan Kristen yang sering kauceritakan itu? Kau tidak ada bedanya dengan orang lain. Hidup berimanmu ternyata hanya omong kosong!"

Di dalam kesedihanku, aku teringat kepada "prestasi" pelayananku. Aku teringat bagaimana aku membagikan Firman Tuhan; aku terkenang kepada orang-orang yang kubawa kepada Tuhan. Aku ingat ketika aku memimpin pujian dan penyembahan di Rumah Tuhan; dan semua kepanitiaan dan kepengurusan yang pernah kutangani.

Tapi semuanya itu ada di masa lalu. Kenangan akan pelayanan dan kegiatan rohaniku tidak membuat kesedihanku berkurang. Tidak mengobati sakit hatiku. Justru membuatku semakin tertekan dan merasa tidak layak.

***

Aku bertanya kepada diriku sendiri: "Mengapa kau harus sedih? Mengapa kau merasa sesak dan sakit hati? Mengapa kau kehilangan semangat hidup dan ingin mati saja?" Aku mencoba menguatkan hatiku sendiri: "Ayolah. Taruhlah harapanmu kepada Tuhan. Cobalah untuk memuji Dia dan bersyukur kepadaNya, apapun keadaanmu."

Aku tahu, hatiku sedang terluka. Aku sadar sepenuhnya. Aku tidak berpura-pura bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku tidak menyangkal kepahitanku. Justru karena itu, aku akan melakukan hal-hal ini.

Sekarang aku mau mengingat Tuhan, yang sudah memberikan kepadaku segala sesuatu yang bisa kunikmati. Hangatnya matahari, segarnya udara. Anak-anakku, harta warisanku. Orang-orang yang mengasihiku dan mendoakan aku. Makanan dan minumanku setiap hari. Pekerjaan dan karier yang kujalani. Di pagi hari, Tuhan mencurahkan kasih sayangNya kepadaku. Di malam hari, Ia memberikan nyanyian di dalam hatiku.

Sekarang, aku mau berkata kepada Tuhanku: "Mengapa Engkau membiarkan aku sendirian? Mengapa Engkau mengijinkan aku disakiti? Mengapa Engkau tidak membalas orang-orang yang menekan dan mengolok-olok aku?"

Sekarang aku mencurahkan duka dan kemarahanku kepadaNya: "Lihatlah, betapa tubuhku menjadi sakit karena kesedihanku. Lihatlah aku tidak bisa makan, aku tidak bisa minum, aku tidak bisa tidur. Lihatlah betapa aku menjadi lesu. Aku kehilangan semangat hidup, rasanya aku ingin mati saja."

***

Aku berusaha menyemangati diriku sendiri: "Hai. Mengapa engkau harus bersedih? Mengapa engkau sangat tertekan? Ayolah. Datang kepada Tuhan, bawa semua bebanMu kepadaNya. Kau tahu, di dalam Dia selalu ada harapan. Kau tahu, bagi Dia tidak ada yang mustahil."

"Mulailah untuk memuji Dia, walau berat mulutmu. Cobalah untuk bersyukur kepadaNya, walau gelap matamu. Sebab Dia, hanya Dia yang bisa menolongmu. Sebab Dialah Penyelamatmu, Dialah Tuhanmu"

_______________

Tulisan ini adalah saduran dari sebuah nyanyian yang ditulis oleh Raja Daud. Silakan membaca Mazmur 42 untuk melihat naskah aslinya. Menuliskan kembali ayat-ayat itu dengan kata-kata saya sendiri menolong saya untuk lebih mengerti maknanya, lebih related dengan keadaan saya.

One thing I know: problem and stress are real. Ketika itu saya alami, saya tidak bisa mengabaikannya; saya tidak bisa berpura-pura bahwa saya baik-baik saja. Saya belajar dari Raja Daud, untuk jujur mengakui bahwa saya memang sedang bermasalah--dan kemudian menyerahkan diri kepada Tuhan supaya Ia mengobati saya.

My Favourite Women

My late mother was and still is one of my favourite women. Ibu adalah profil seorang wanita, istri, dan ibu yang sangat kuat di mata saya.

Bayangkan: mengasuh 5 orang anak sendirian, karena bapak saya harus berada di luar negeri (2 tahun bekerja di Australia dan 4 tahun mengambil doktor di Inggris). Dan itu terjadi ketika kami masih kecil. Saya masih TK ketika bapak ke Australia, dan adik saya ada yang masih bayi. Pada waktu bapak berangkat ke Inggris, saya masih kelas 5 SD.

Walaupun Ibu tidak memiliki degree, namun beliau seorang yang terdidik. Educated people do not always hold a degree. On the contrary, many people are not educated, although they hold several degrees.

Ibu saya, walau tidak bertitel; tidak pernah minder di tengah orang banyak. Beliau pernah bertemu Presiden, bergaul dengan menteri, pergi ke Jepang sendiri untuk mengantar misi kesenian anak-anak. Sama sekali tidak canggung. Tetapi juga tidak sombong atau sok. Hari ini Ibu bisa bicara dengan seorang Dirjen, besoknya sudah bercanda dengan mbok penjual tempe di pasar.

Salah satu kalimat yang paling saya ingat dari Ibu adalah: "Le*, kamu itu anak laki-laki tertua. Selama Bapak tidak ada, kamu yang menggantikan tempatnya." Dan Ibu tidak hanya bicara, melainkan benar-benar melatih saya untuk mengambil tanggung jawab—yang sebenarnya mungkin melebihi porsi saya. Saya ingat betul, ketika baru lulus SD, saya harus berkeliling kota Solo naik sepeda, untuk mencarikan sekolah bagi kakak perempuan saya.

Semakin saya beranjak dewasa, semakin banyak hal dipercayakan Ibu kepada saya. Ketika saya mulai masuk SMA, Ibu mulai banyak bercerita tentang persoalan dan kondisi keluarga. Keadaan keuangan, persoalan di kantor, bahkan masalah yang dihadapi dengan bapak. Sampai sekarang, mungkin Bapak tidak tahu berapa banyak cerita yang sebenarnya saya sudah dengar dari Ibu. Namun itu tak pernah melunturkan hormat dan respek saya kepada Bapak.

Mungkin, karena terbiasa mendengar cerita dan curahan isi hati dari Ibu itulah, maka telinga dan hati saya menjadi terlatih untuk mendengarkan orang lain. Ada beberapa orang berkomentar bahwa di Newcastle ini, saya dekatnya cuma dengan ibu-ibu saja. Mungkin ada benarnya. I find that it is very easy for me to listen to a mother's voice. Yang jelas, Ibu saya tidak hanya seorang ibu bagi saya, melainkan beliau juga menjadi teman dekat saya.

***

Do you know who is my other favourite woman? Benar. Rut, istri saya. She is one of the strongest women I've ever known. Saya tidak hanya mencintainya. Tetapi saya juga kagum, hormat, dan benar-benar respek kepadanya. She has so many qualities that I don't have in my character. Dan pengorbanan serta penyerahan hidupnya kepada saya takkan pernah terbayar dengan apapun. Sering saya heran, mengapa ia bisa punya penyerahan sedalam itu kepada saya.

Ada banyak sekali cerita yang bisa saya sampaikan tentang wanita yang menjadi istri saya ini. Namun, saya ingin membagikan satu hal yang baru saja terjadi. Peristiwa yang membuat saya sangat terharu. Peristiwa yang menunjukkan isi hatinya tentang saya.

Minggu lalu saya menelepon Rut. Saya mengatakan bahwa kalau nanti saya pulang, saya ingin punya prioritas yang benar. Saya tidak ingin keluarga kami sibuk untuk membeli barang-barang, tetapi lebih banyak menggunakan uang untuk pergi bersama. Saya tidak ingin mewariskan barang-barang, tetapi kenangan indah. Saya tidak ingin, kalau saya mati nanti, anak-anak saya harus mengadakan "super garage sale" untuk membuang barang-barang saya.

Saya tidak sedang mengkritik teman-teman yang punya hobby pergi garage sale, lho. Saya juga suka pergi, kok; bersama keluarga saya. But, without my family, I don't see any point of going alone. Jadi jangan tersinggung, ya. You have your family here, and you have your own legitimate reasons.

This is my reason: Saya ingin anak-anak saya memiliki kenangan yang indah tentang keluarga. Dan saya tahu, minimal berdasar pengalaman saya: things never buy sweet memories. Semua kenangan manis yang saya miliki, selalu berhubungan dengan apa yang saya alami bersama seseorang, bukan bersama barang.

***

Di telepon, saya bilang kepada Rut, bahwa tidak terlalu banyak kenangan indah yang saya miliki bersama orangtua dan keluarga saya. Saya tahu, bahwa dia pun mengalami hal serupa. Dan kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Kemudian Rut mengatakan sebuah kalimat. Kalimat yang belum pernah saya dengar selama 7,5 tahun kami menikah (plus 6 tahun pacaran dan 1 tahun tunangan). Dia berkata, "Aku sulit mengingat satupun kenangan indah bersama keluargaku. Aku baru mulai merasa benar-benar hidup sejak aku berpacaran denganmu."

Menuliskan lagi kalimat itu membuat saya hampir menangis. That is the highest compliment I have ever got from anybody! Saya bersyukur kepada Tuhan untuk Rut. Sebab ia bukan hanya istri saya, kekasih saya, penolong saya, dan ibu bagi anak-anak saya; but she is also my best friend.

Saya berdoa agar saya tidak hanya menjadi suami, kekasih, dan kepala bagi istri saya; namun juga menjadi sahabat terbaiknya. Saya memohon kepada Tuhan supaya saya tidak hanya menjadi seorang ayah, provider, teladan, dan mentor bagi anak-anak saya; namun juga menjadi teman terdekat mereka.

***

Saya tahu, bahwa Mother's Day baru akan dirayakan beberapa hari lagi. Namun, saya sengaja mengirim tulisan ini sekarang. Siapa tahu, ini bisa memicu perenungan kita selama 1 minggu ini. Sehingga ketika hari itu tiba, kita sudah tahu apa yang harus kita ungkapkan kepada ibu kita, kepada ibu dari anak-anak kita, dan kepada ibu-ibu lain yang dekat dengan kita. Happy Mother's Day!

__________

* "Le" berasal dari kata "thole", panggilan untuk anak laki-laki di Jawa. Tidak semua orang bisa menggunakan panggilan ini, hanya keluarga atau orang yang sangat dekat saja yang "berhak" memakainya.

Bayi, ASI, dan Hidup Rohani

Minggu lalu, saya punya kesempatan untuk menggendong bayi. Ini yang pertama sejak terakhir kali menggendong Abdi 2 tahun yang lalu. What a wonderful feeling! Saya sangat menyukai pengalaman itu. Tubuh mungil terbungkus berlapis-lapis kain penghangat; aroma harum minyak bayi; wajah yang jernih tenang tanpa beban persoalan. Walah ... saya jadi pengin punya bayi lagi.

Beberapa menit saya gendong, si bayi mulai gelisah. Merengek dan hampir menangis. Sang ibu langsung tahu apa yang harus dilakukan. Ia menyiapkan sebotol susu dan menyerahkannya kepada saya. Dan, betapa bersemangatnya si bayi untuk meminum susu itu! Cepat sekali ia menghabiskannya. Begitu habis, botol saya lepaskan; dia menjadi tenang kembali—tidur lelap dalam gendongan saya.

Seorang ibu dan ayah akan sangat senang melihat bayinya begitu antusias untuk mengkonsumsi susu. Karena mereka tahu, bahwa air susu itu vital bagi kehidupan, kesehatan, dan pertumbuhan bayinya. Mereka akan sangat cemas dan mungkin menjadi panik, apabila bayinya menolak untuk minum air susu itu. Mereka akan berpikir: "What's wrong with my baby?"

***
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan. (1 Petrus 2:2)
Anehnya, kita jarang atau tidak pernah panik apabila ada seorang Kristen (termasuk diri kita sendiri) yang tidak menunjukkan kehausan seperti bayi terhadap Firman Tuhan. Kita tidak cemas dan tetap merasa normal-normal saja, walaupun mungkin sudah berhari-hari (atau malah berminggu-minggu) sama sekali tidak mendapatkan air susu yang murni dan rohani itu! Padahal, seharusnya kita berkata: "What's wrong with me?"

Saya percaya, bahwa salah satu tanda seseorang itu sudah sungguh-sungguh memiliki kehidupan baru di dalam Kristus adalah: kehausannya akan Firman Tuhan. Dalam pelayanan kami di Solo, kami akan mengamati dengan cermat kehidupan orang selama 3-6 bulan pertama sejak dia mengaku percaya.

Apabila di dalam jangka waktu itu ia tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa ia haus akan Firman Tuhan; kami akan mulai "meragukan" pertobatannya: apakah dia sungguh-sungguh sudah percaya kepada TuhanYesus? Kalau dia sungguh-sungguh sudah percaya, mengapa dia tidak memunculkan tanda-tanda kehidupan barunya?

***

Bulan lalu, saya diberitahu Rut, istri saya, bahwa Abdi sudah tidak lagi minum ASI. Itu berarti dia butuh waktu lebih panjang dari rata-rata anak. Katanya, seorang anak biasanya butuh waktu sekitar 2 tahun sebelum bisa disapih. Wening lebih cepat disapih; dia sudahmenolak untuk diberi ASI ketika berumur 15 bulan.

Mengetahui bahwa Abdi sudah tidak lagi butuh ASI tidak membuat kami panik atau cemas. Justru kami bersyukur. Sebab memang sudah saatnya dia berhenti tergantung kepada ASI, dan mulai mengkonsumsi jenis makanan yang lain. Itu menunjukkan bahwa dia bertumbuh dan berkembang. Itu berarti dia tidak punya kelainan. It proves that he is on the right track in his growing process as a normal human being.

Ketika memikirkan proses pertumbuhan anak-anak saya di dalam hal makan, saya melihat ada tahap-tahap yang mereka lalui.

Ketika baru lahir, seorang bayi tergantung penuh kepada ibunya. Ibunya yang makan, dan dari makanan yang dikonsumsi itu, tubuh sang ibu akan memproduksi ASI, yang kemudian diminum oleh si bayi.

Setelah mulai tumbuh, ASI tidak lagi menjadi satu-satunya sumber makanan si anak. Ibunya akan menyiapkan susu formula, biskuit bayi, bubur, dan kemudian nasi tim. Si anak tidak perlu pusing, dia akan disuapi pada jam-jam tertentu. Masih ada ketergantungan yang sangat kuat kepada ibunya.

Saat si anak semakin besar, ia akan meninggalkan semua jenis makanan bayi. Ibunya masih memasak, menentukan menu, dan menentukan jadwal makan. Namun, sekarang si anak mulai belajar untuk makan sendiri—tanpa disuapi. Wening, yang berusia 6 tahun, sudah makan sendiri. Walaupun ketika sedang "kumat" manjanya, dia masih minta disuapi. Bapaknya Wening juga begitu kok; kalau sedang kumat juga kadang masih minta disuapi.

Tahap berikutnya, biasanya ketika anak berusia SMP ke atas. Ibunya sudah "tidak perlu berpikir" tentang kebiasaan makannya. Ada makanan di rumah, silakan ambil sendiri. Bosan dengan menu di rumah, silakan jajan ke warung. Tidak cocok dengan masakan ibu dan malas pergi ke luar, silakan masak nasi goreng atau menggoreng telor sendiri.

Seseorang mencapai kedewasaan penuh (dalam hal makan), ketika dia sudah sama sekali tidak tergantung kepada orangtuanya. Dia sudah bekerja sehingga punya uang sendiri untuk membeli makanan. Dia bisa menentukan menu sendiri. Dia tahu apa yang dia inginkan dan dia butuhkan. Dan kalau dia sudah punya anak, dia sekarang bisa memberi makan kepada anak-anaknya.

***
Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (Ibrani 5:11-13)
Berapa lama kita sudah mengenal Tuhan Yesus? Berapa tahun kita sudah menjadi seorang Kristen? Ditinjau dari sudut waktu, sampai di mana seharusnya tingkat kedewasaan kita di dalam Firman Tuhan? How is our progress report in the Word of God?

Adakah teman-teman yang merasa dihakimi oleh tulisan ini? That's good! Saya sendiri tertantang untuk mengevaluasi hidup saya. Saya tahu betul, hidup Firman saya tidak sepadan dengan usia rohani saya. Saya masih sangat malas dan tidak disiplin untuk teratur dalam mendengar, membaca, menyelidiki (study), menghafalkan dan merenungkan Firman Tuhan.
Do your best to present yourself toGod as one approved, a workman who does not need to be ashamed and whocorrectly handles the word of truth. (2 Timotius 2:15 – NIV)
Firman Tuhan adalah pedang Roh (Efesus 6:17). Kalau saya tidak setia untuk menggenggamnya dan berlatih setiap hari; saya tidak bisa menguasai cara yang benar untuk menggunakannya. Saya tidak akan terampil untuk memakainya. Dan kalau saya tidak terampil, bagaimana saya bisa menang di dalam peperangan rohani melawan dosa dan Iblis?
Sebab firman Allah hidup dan kuat danlebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalamsampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggupmembedakan (judges – NIV) pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12)
Tanpa Firman Tuhan, saya akan sangat mudah disesatkan dan dikelabuhi oleh pikiran saya sendiri (maupun orang lain). Saya bisa sudah merasa saleh dan suci. Saya bisa merasa bahwa pertimbangan dan sikap sayalah yang paling benar. Namun, kalau saya setia belajar Firman Tuhan; Firman itu yang akan menghakimi dan menilai apakah pikiran, sikap hati, dan perilaku saya sudah sesuai dengan tata nilai Allah.

***

Saya berdoa agar hati saya terus-menerus memiliki kehausan yang tak pernah terpuaskan terhadap Firman Tuhan. Saya berdoa agar saya memiliki disiplin dan kesetiaan untuk berhubungan dengan Firman Tuhan. Saya berdoa, agar persekutuan dengan Firman yang hidup itu semakin mengubah cara berpikir, sikap, dan perilaku saya.

Thursday, May 04, 2006

16 Tahun Gaji

May I ask you a very personal question? Berapa penghasilan Anda selama setahun? Sebagai seorang abdi negara Republik Indonesia golongan III/a, gaji saya sudah menjadi rahasia umum: sekitar 1,5 juta perbulan. Kalau saya kalikan 12, maka penghasilan saya mencapai 18 juta per tahun. Ternyata, diam-diam saya ini seorang jutawan, he...he...he...!

Oke, Anda pasti sudah bisa menghitung berapa penghasilan yang Anda peroleh selama setahun. Let me ask you another personal question. Seandainya suatu hari ada orang yang memberi uang kepada Anda sejumlah 16 tahun gaji, apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Kalau memakai gaji saya sebagai contoh, maka itu berarti uang sebesar 288 juta!

Mari kita berkhayal sebentar. What will you do with that kind of money? Kalau Anda bingung atau terlalu malas untuk berpikir tentang penggunaan uang itu, pasti inilah yang akan teman-teman lakukan: memasukkannya ke dalam deposito, supaya uang itu bisa berkembang.

Apapun yang Anda khayalkan, saya yakin, tidak ada satupun di antara kita yang akan membungkus uang itu dan menyimpannya di bawah bantal atau memendamnya di dalam tanah.

***

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang talenta. Seorang tuan memberikan modal kepada ketiga hambanya: ada yang diberi 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta. Ah, kita sudah hafal jalan ceritanya. Kalau belum tahu, silakan ambil Alkitab dan baca sendiri ayatnya.

Selama ini, setiap kali membaca perumpamaan ini, di dalam hati kecil saya sebenarnya ada rasa kasihan kepada hamba yang diberi 1 talenta. Selama ini, saya berpikir bahwa persoalan yang dihadapi oleh hamba ini adalah persoalan rendah diri atau minder. Karena ia sadar bahwa hanya punya 1 talenta, maka ia merasa bahwa itu tidak cukup untuk bisa dipakai sebagai modal usaha.

Dan saya bisa memahami perasaan hamba itu. Saya sering mendengar orang berkata: "Wah, modal cuma segitu, mau sampai ke mana penggunaannya?" Saya bertemu dengan banyak orang yang sadar bahwa dirinya tidak punya banyak kelebihan, maka ia merasa minder dan itu membuatnya tidak berani untuk melakukan apa-apa.

Oh, saya bisa memahami dan bersimpati dengan perasaan itu; sebab saya pun seringkali mengalaminya. Tidak punya self-confidence, karena merasa kurang punya kemampuan dibandingkan orang lain.

***

Namun, hari ini pandangan saya berubah sama sekali! Sekarang, saya tidak lagi merasa kasihan atau bersimpati kepada hamba yang diberi 1 talenta itu! Sekarang saya jadi memahami, mengapa sang tuan sangat marah kepadanya. Why? I'll tell you why.

Pagi ini, saya membaca bahwa talenta adalah satuan mata uang yang dipakai pada jaman Tuhan Yesus: 1 talenta sama dengan 60 mina, dan 1 mina sama dengan 100 dinar. Jadi, 1 talenta itu ekwivalen dengan 6000 dinar. Padahal, 1 dinar adalah upah 1 hari kerja seorang buruh. Kesimpulannya, menerima 1 talenta sebenarnya menerima uang sebesar gaji untuk 6000 hari kerja. Dan karena 1 tahun itu ada 365 hari, maka 1 talenta itu sama dengan 16 tahun gaji!

Sekarang saya bisa mengerti mengapa sang tuan sangat marah. Karena memang hamba ini keterlaluan sekali! Sudah diberi modal sebesar 16 tahun gaji, tetapi malah dipendam di dalam tanah!

Persoalan hamba itu bukanlah persoalan kompleks rendah diri, melainkan kemalasan! He was just too lazy to do anything for his master. Begitu malasnya dia, sampai-sampai dia tidak mau untuk memasukkan modal itu ke dalam bank supaya berkembang!
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang (bankers-NIV), supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya (Matius 25:26-27).
***

Saya tahu sekarang, bahwa selama ini saya salah. Mata saya begitu buta terhadap apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Saya tidak sadar, bahwa yang 1 talenta itu pun sebenarnya besar sekali nilainya.

Sekarang, setelah saya tahu bahwa sebenarnya banyak sekali yang telah diberikan Tuhan kepada saya; apa yang akan saya lakukan? Apakah saya masih tega untuk memendamnya di dalam tanah?

Kalau iya, maka memang saya ini malas luar biasa. Tidak hanya malas, namun hati saya ini jahat dan sama sekali tidak tahu berterima kasih; karena saya benar-benar tidak mau untuk melakukan apapun juga bagi Tuhan; padahal Ia sudah memberi begitu banyak hal kepada saya.

Wednesday, May 03, 2006

The Distressed God

Pada malam sebelum Ia ditangkap, Tuhan Yesus, untuk pertama kali di dalam hidupNya, merasakan tekanan yang luar biasa. Kesedihan dan ketakutan yang belum pernah Ia alami. Sampai-sampai Ia berkata kepada ketiga muridNya: "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya" (Markus 14:34).

Dan begitu besar tekanan batin yang dialamiNya, sehingga Ia meminta agar Petrus, Yohanes, dan Yakobus menemani Dia untuk berdoa. Anak Allah, yang tidak pernah membutuhkan dukungan moril dari siapapun; Anak Allah yang tidak pernah takut menghadapi apapun; malam itu, Ia minta untuk ditemani!

Ia tidak minta ditolong, Ia tidak minta dibantu. Ia juga tidak minta untuk didoakan. Ia tahu pasti, bahwa murid-murid itu tidak berdaya apa-apa untuk membantu; sebab tantangan yang sedang dihadapiNya malam itu tidak bisa ditanggung oleh siapapun juga, kecuali DiriNya sendiri. But nevertheless, Ia minta agar murid-muridnya berjaga, untuk tidak tidur, untuk menemaniNya.

Saya ingat, ketika masih kecil, sebelum saya mengenal Kristus, saya sering terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi--saya merasa takut. Semua suara yang terdengar sepertinya merupakan ancaman bagi saya. Saya seperti mendengar langkah kaki orang di luar, atau suara orang yang berusaha membuka pintu. Sekarang saya tahu, bahwa semuanya hanya ada di dalam imajinasi saya sendiri, namun saat itu saya benar-benar ketakutan.

Dan kalau saya sudah tidak tahan, biasanya saya akan mencari ibu saya. Waktu itu, bapak masih studi di Inggris. Saya akan pindah untuk tidur di dekat ibu saya. Dan ketika ibu saya sudah merangkul saya, saat itu juga ketakutan saya reda; dan hati saya menjadi tenang kembali, sehingga saya bisa terlelap.

Padahal, kalau benar-benar ada orang jahat yang masuk ke rumah, apa sih yang bisa dilakukan oleh ibu saya? Apakah ibu saya akan bisa melindungi kami semua? Saya pikir, ibu saya juga tidak akan berdaya. Tetapi, kehadirannya sudah cukup untuk menenangkan saya.

***

Kita tahu, bahwa seringkali, kita harus menghadapi persoalan besar di dalam hidup kita. Dan kita sadar, bahwa hanya kita sendiri yang harus menanggungnya. Namun, kita tahu juga, bahwa kalau ada orang yang mau menemani kita--cukup menemani saja, maka kita merasa mendapat sedikit keringanan. Kita merasa tidak sendirian.

Tetapi, betapa sedihnya kita apabila ketika kita merasa tertekan, tidak ada satu orang pun yang menemani kita. Dan itulah yang dialami Tuhan Yesus. Pada saat Ia ketakutan dan bergumul berat, murid-muridNya justru tertidur lelap. Tuhan Yesus sampai harus 3 kali membangunkan mereka.

Pernahkah kita mengalaminya? Sementara kita sedang dalam persoalan yang sangat berat, sementara kita sedang bergumul hebat, sementara kita sedang gelisah sampai tidak bisa tidur semalam-malaman; orang yang paling dekat dengan kita justru bisa tidur dengan lelap.

Kita tahu, bahwa mungkin dia juga tidak mampu menyelesaikan masalah kita; namun, melihatnya lelap atau malah sampai mendengkur, sementara hati kita begitu sesak--wah, betapa sedihnya. Kita merasa ditinggalkan, kita merasa sendirian.

Kalau kita pernah mengalaminya, janganlah kecil hati. Sebab Tuhan Yesus pun pernah mengalaminya! Dan karena Ia telah mengalaminya, dan mampu menang atas kondisi itu; Ia juga akan memampukan kita untuk menanggungnya. "Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani 2:18).

***

Malam ini, saya sedang tertekan, sampai dada saya begitu sesak. Mungkin belum sampai seperti mau mati rasanya, tapi betapa riilnya kesesakan itu! Saya tidak bisa melupakannya, saya tidak bisa menghibur diri dengan menonton TV, atau main sudoku, atau membaca. I know, I have to deal with it. And fast! Sebab kalau tidak, kesesakan itu hanya akan membuat pikiran saya kalut--dan saya akan menjadi useless bagi orang lain.

Saya tiba-tiba diingatkan kepada satu ayat yang pernah saya baca, namun celakanya, saya lupa di mana tempatnya dalam Alkitab. Maka, saya memutuskan untuk pergi ke kampus, connect ke Internet, dan mencari ayat itu memakai search engine yang ada di www.gospelcom.net. Inilah ayat yang saya cari itu:
In all their distress He too was distressed, and the angel of His presence saved them. In His love and mercy He redeemed them; He lifted them up and carried them all the days of old. (Yesaya 63:9 NIV)
Oh, saya tahu, Dia Mahakuasa, dan kekuatanNya sangat cukup untuk menolong saya mengatasi apapun masalah saya. Saya juga tahu, bahwa Ia sangat mengasihi saya. Ia memperhatikan saya dan sangat concern kepada saya. Saya yakin bahwa Ia tidak akan membiarkan saya sendirian.

Tetapi, sekalipun begitu, sulit sekali bagi saya untuk percaya bahwa Tuhan itu bisa ber-empati (bisa turut merasakan) apa yang sedang saya rasakan. Masakan Tuhan itu bisa merasakan kesedihan saya? Bagaimana mungkin, Allah yang Mahakuasa itu bisa sungguh-sungguh mengerti kebingungan atau kekalutan saya?

Saya selalu membayangkan Allah sebagai Pribadi yang kuat, yang tenang, yang selalu in control, yang selalu cool. Seperti seorang konselor yang duduk di hadapan saya, dengan sabar mendengarkan setiap keluhan saya, dan kemudian memberikan jalan keluar terbaik bagi persoalan saya; namun yang tidak mengalami apa yang saya alami! Seperti seorang dokter yang ahli dan baik hati, yang berusaha untuk menyembuhkan penyakit saya; namun yang sama sekali tidak merasakan kesakitan seperti yang ada di dalam tubuh saya.

Namun, Yesaya 63:9 itu benar-benar membuka mata saya kepada satu dimensi tentang Allah yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Oh, saya tahu, bahwa ketika Allah itu menjadi Manusia Yesus, Ia merasakan semua penderitaan yang mungkin dialami oleh manusia. Namun, ayat itu tidak bicara tentang Tuhan Yesus ketika hidup di bumi ini, melainkan Allah Israel, Allah Mahakuasa yang dikenal di dalam Perjanjian Lama!

Ternyata, ketika umatnya sedang mengalami tekanan, Allah juga ikut merasa tertekan! In all their distress He too was distressed! Ia tidak hanya melihat penderitaan umatNya dari kejauhan, sambil menunggu waktu yang tepat untukmengulurkan pertolongan. Ia tidak hanya duduk di atas takhtaNya dengan "dingin" dan tanpa emosi; namun hatiNya, perasaanNya, turut "terganggu" (saya menuliskan ini dengan penuh rasa hormat kepada Tuhan) ketika melihat umatNya ada di dalam pergumulan.

Ternyata, baik Allah yang dikenal dalam Perjanjian Lama, maupun Allah yang menjadi Manusia Sejati; benar-benar ber-empati, sungguh-sungguh merasakan apa yang saya rasakan. Ia tahu apa artinya ditolak, Ia mengerti rasanya dikhianati. Ia lapar, Ia lelah, Ia berduka, Ia menangis. Ia mengaduh ketika punggungNya dicambuk; Ia mengerang ketika tanganNya dipaku! Ia berdarah-darah ketika dipasangi makhota duri! Ia mengalami semua penderitaan, bahkan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah saya derita.

***

Saya tahu sekarang. Ketika saya tidak bisa tidur semalam suntuk karena kesesakan hati saya, Tuhan berjaga bersama saya. Ketika saya begitu marah dan kecewa, Ia tahu betul bagaimana rasanya. Ketika saya bersedih sampai kehabisan air mata, Ia merangkul saya, dengan sekotak tisu di tanganNya. Ketika saya merasa sendirian dan kesepian, Ia berkata: "I am still here".

Puisi Kasih

Minggu ini saya punya kesempatan mendengarkan rekaman khotbah dari seorang hamba Tuhan yang luar biasa. Namanya J Oswald Sanders. Dia seorang missionaris dari OMF (Overseas Missionary Fellowship) . Ia pengarang buku Spiritual Leadership, sebuah buku yang menjadi salah satu bacaan "wajib" di dunia Kristen.

Dalam khotbah yang saya dengarkan, Oswald Sanders berbicara mengenai "Puisi Kasih" yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7. Dia menyarankan agar kita membacanya dengan 4 cara sebagai berikut:

1. Baca apa adanya

Kasih itu sabar
Kasih itu murah hati
Ia tidak cemburu
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

2. Ganti kata "kasih" dengan kata "Kristus"

Kristus itu sabar
Kristus itu murah hati
Kristus tidak cemburu
Kristus tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Kristus tidak melakukan yang tidak sopan
Kristus tidak mencari keuntungan diri sendiri
Kristus tidak pemarah
Kristus tidak menyimpan kesalahan orang lain
Kristus tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran
Kristus menutupi segala sesuatu
Kristus percaya segala sesuatu
Kristus mengharapkan segala sesuatu
Kristus sabar menanggung segala sesuatu

Ketika saya membacanya dengan cara seperti ini, saya benar-benar jadi melihat: bahwa benar, Kristus telah melakukan kasih itu dengan sempurna. Semua ciri-ciri kasih itu jelas sekali nyata di dalam kehidupan Kristus. Puisi ini menjadi sebuah pujian bagi Kristus.

3. Ganti kata "kasih" dengan kata "saya"

Saya itu sabar
Saya itu murah hati
Saya tidak cemburu
Saya tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Saya tidak melakukan yang tidak sopan
Saya tidak mencari keuntungan diri sendiri
Saya tidak pemarah
Saya tidak menyimpan kesalahan orang lain
Saya tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran
Saya menutupi segala sesuatu
Saya percaya segala sesuatu
Saya mengharapkan segala sesuatu
Saya sabar menanggung segala sesuatu

Ketika saya mencoba membacanya dengan cara ini, hati saya langsung "down". Depressed! Saya tidak mampu membacanya. Karena saya tahu, saya sama sekali tidak seperti itu. Saya sadar, betapa saya tidak menampakkan kasih itu di dalam hidup saya. Padahal, Tuhan Yesus mengatakan:
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yohanes 13;34-35)
Waduh, mendadak saya merasa malu sekali. Ternyata "kasih" yang selama ini saya praktekkan, sama sekali belum memenuhi tuntutan Tuhan Yesus. Padahal, saya sudah merasa sangat hebat dalam mengasihi orang lain. Pantas saja, tidak banyak orang yang bisa melihat hidup saya sebagai murid Kristus, karena saya sudah gagal untuk mengasihi seperti yang Kristus kehendaki.

Puisi Kasih itu sekarang menjadi doa pengakuan dosa saya: pengakuan bahwa saya belum memenuhi standar Tuhan. Pengakuan bahwa selama ini saya sudah begitu buta, karena merasa telah berhasil mengasihi orang lain. Padahal, sebenarnya nol besar!

4. Ganti kata "kasih" dengan "Kristus yang di dalam saya"

Kristus yang di dalam saya itu sabar
Kristus yang di dalam saya itu murah hati
Kristus yang di dalam saya tidak cemburu
Kristus yang di dalam saya tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Kristus yang di dalam saya tidak melakukan yang tidak sopan
Kristus yang di dalam saya tidak mencari keuntungan diri sendiri
Kristus yang di dalam saya tidak pemarah
Kristus yang di dalam saya tidak menyimpan kesalahan orang lain
Kristus yang di dalam saya tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran
Kristus yang di dalam saya menutupi segala sesuatu
Kristus yang di dalam saya percaya segala sesuatu
Kristus yang di dalam saya mengharapkan segala sesuatu
Kristus yang di dalam saya sabar menanggung segala sesuatu

Puji Tuhan! Sekarang Puisi Kasih itu memberikan pengharapan kepada saya. Saya mengerti bahwa, dengan kekuatan saya sendiri, saya takkan pernah mampu untuk mengasihi dengan benar. Namun, apabila Kristus tinggal di dalam diri saya, maka kasihNya yang sempurna itu akan memancar keluar dan menyentuh hidup orang lain.

Benar apa yang dikhotbahkan pendeta kami kemarin: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (2 Korintus 4:7).

Tuhan memang menjadikan saya dari tanah liat, yang rapuh, dan sama sekali tidak sempurna. Supaya, ketika orang lain mendapat berkat, mereka jadi tahu, bahwa bukan diri sayalah yang memberkati, melainkan kekuatan Allahlah yang memampukan! Sehingga saya tidak mencuri kemuliaan Allah, sehingga orang tidak melihat saya, melainkan memuji Kristus yang tinggal di dalam saya.